Ruang Redaksi — Sekolah Rakyat Terintegrasi di Desa Sambaliwali, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) SulawesinBaray dipastikan batal difungsikan pada awal tahun ajaran ini.
Kompleks sekolah berasrama yang diproyeksikan menjadi solusi pendidikan terpadu di Sulbar tersebut terpaksa menunda operasionalnya akibat kendala teknis dan medan yang menantang.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana, membenarkan adanya pergeseran target rampungnya proyek tersebut saat meninjau langsung lokasi pembangunan di Desa Sambaliwali.
Awalnya, Pemerintah Provinsi Sulbar menargetkan mobilisasi guru dan 98 siswa dari sekolah rintisan ke asrama baru bisa dilakukan pada 31 Juli 2026. Namun, tenggat waktu tersebut terpaksa diundur.
“Kementerian Sosial dan pihak pelaksana proyek memberikan waktu penyesuaian hingga 31 Agustus 2026. Kita berharap seluruh pembangunan dapat diselesaikan sesuai jadwal baru tersebut,” ujar Junda.
Meskipun mendorong percepatan agar proyek tidak semakin molor, Junda menegaskan bahwa Pemprov Sulbar tidak akan memaksakan pemindahan siswa jika fasilitas sekolah belum siap 100 persen. Aspek kelayakan dan keselamatan anak-anak menjadi harga mati.
“Kami mengingatkan agar pekerjaan diselesaikan tepat waktu tanpa mengorbankan kualitas. Bangunan ini dipersiapkan untuk jangka panjang, sehingga harus benar-benar memenuhi standar kelayakan,” tegas Junda.
Ia menambahkan, karena sekolah ini bermodel asrama yang akan ditinggali oleh anak-anak secara menetap, pemerintah membutuhkan jaminan mutlak terkait kelayakan bangunan fisik maupun fasilitas penunjangnya.
“Prinsip kami, karena anak-anak kami yang akan menempati, harus ada jaminan bahwa bangunan ini sudah benar-benar layak,” imbuhnya.
Penundaan fungsi sekolah tahun ini rupanya bukan satu-satunya persoalan. Pemprov Sulbar juga mulai mengkhawatirkan kapasitas daya tampung sekolah di masa depan.
Saat ini, gedung baru yang sedang dibangun hanya memiliki 12 ruang kelas dengan kapasitas total sekitar 360 peserta didik (estimasi 30 siswa per kelas). Daya tampung ini dinilai sangat minim jika target ekspansi sekolah mulai berjalan.
Ke depan, pemerintah berencana menambah daya tampung hingga 270 siswa baru per tahun ajaran, yang terdiri dari masing-masing 90 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Jika diakumulasikan dalam tiga angkatan berjalan, sekolah ini membutuhkan ruang untuk lebih dari 800 siswa.
“Karena itu kami sudah menyampaikan kepada pihak balai agar segera mengusulkan penambahan bangunan. Jika tidak ada penambahan, dikhawatirkan tahun depan sekolah tidak bisa lagi menerima peserta didik baru karena kapasitasnya sudah penuh,” katanya
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, Pemprov Sulbar saat ini sedang mendorong Pemerintah Kabupaten Polman untuk mulai membebaskan lahan tambahan di sekitar sekolah. Penambahan lahan ini dinilai krusial agar pengembangan kawasan sekolah berasrama ini bisa terus berlanjut tanpa terkendala ruang geografis.




