Ruang Redaksi — Mengenakan seragam korps sabuk putih dan bertugas mengurai kemacetan di jalan raya adalah rutinitas harian bagi Aipda Irham. Namun, siapa sangka, di balik ketegasannya sebagai personel Satlantas Polres Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, ia adalah seorang pekebun bertangan dingin.
Berawal dari sekadar mengisi waktu luang di tengah pembatasan aktivitas saat pandemi Covid-19 pada tahun 2020 lalu, Irham kini sukses menjadi petani durian premium. Ia berhasil menyulap lahan perbukitan gersang seluas lebih dari satu hektar di kawasan Anreapi menjadi perkebunan durian yang sangat produktif.
Dedikasinya sebagai pelayan masyarakat di jalan raya tak lantas menyurutkan semangat Irham untuk turun ke tanah. Selama pandemi, ia menghabiskan waktu senggangnya untuk merawat ratusan pohon durian.
Hebatnya, konsistensi itu tetap terjaga setelah aktivitas kedinasan Polri kembali normal. Irham cerdik membagi waktu. Ia memanfaatkan waktu luang sepulang kantor serta akhir pekan untuk fokus mengurus kebunnya.
Kini, setelah lima tahun berselang, kerja keras dan tetesan keringat sang polisi membuahkan hasil manis. Ratusan pohon durian yang ditanamnya mulai memasuki masa panen.
“Awal mulanya pada waktu Covid-19 tahun 2020 kan kita dibatasi untuk berkegiatan di kantor. Jadi untuk memanfaatkan waktu, saya beli lokasi (lahan) terus saya tanami durian premium. Alhamdulillah, sekarang sudah dinikmati hasilnya,” ujar Irham saat ditemui di kebunnya, Rabu (1/6/2026).
Meski usia pohon durian miliknya baru menginjak 5 hingga 6 tahun usia yang relatif muda untuk tanaman durian Irham sudah bisa tersenyum lebar.
Baru dari tiga pohon durian premium yang berhasil dipanen, ia sudah meraup omset hingga kurang lebih Rp 25 juta.
“Omset dari tiga pohon ini kurang lebih Rp 25 juta lah. Durian premium yang harganya mencapai Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu rupiah lebih per buah ini akhirnya bisa dipanen,” ungkapnya bangga.
Saat ini, total ada 102 pohon yang tumbuh subur di lahan milik Irham. Sebanyak 96 pohon di antaranya merupakan varietas durian premium, sementara 6 pohon lainnya adalah durian lokal.
Setidaknya ada 9 jenis durian premium yang dibudidayakan oleh Irham, seperti Black Thorn (Duri Hitam), Musang King, Super Tembaga, Namblung, Bawor, Durian Korea, Sorat Gading, FAFA/Vape dan Montong.
Irham mengakui bahwa tantangan terbesarnya saat ini adalah pasar durian premium yang masih awam bagi sebagian masyarakat lokal di Sulawesi Barat. Namun, berbekal strategi pemasaran digital, kendala tersebut berhasil diatasi dengan mudah.
“Permasalahannya sekarang, orang lokal di Sulbar masih dalam tahap mencoba durian premium. Namun begitu kami coba *upload* di media sosial, langsung habis terjual. Pesanan banyak datang dari wilayah Sulbar sendiri,” jelasnya.
Saat ini, produktivitas kebunnya memang masih berada di tahap awal karena pohon-pohon tersebut baru belajar berbuah. Secara alami, durian baru akan berbuah maksimal pada usia 10 tahun.
Meski demikian, Irham bangga karena teknologi dan teknik pertanian di Indonesia saat ini sudah sangat maju, sehingga mampu merangsang pohon durian berusia muda untuk menghasilkan buah berkualitas tinggi.
Langkah nyata Aipda Irham ini menjadi bukti nyata bahwa kesibukan sebagai aparat penegak hukum bukan halangan untuk berkontribusi dalam sektor pangan. Apa yang dilakukannya adalah potret sinergi pelayan masyarakat yang sukses mendukung ketahanan pangan yang produktif.




