Ruang Redaksi — Dampak kekeringan ekstrem kian mengancam sektor pertanian di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Sebanyak 250 hektar tanaman padi di Desa Rappang Barat, Kecamatan Mapilli, kini berada dalam kondisi kritis dan terancam gagal panen setelah dua bulan tak tersentuh air.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kondisi tanah persawahan sudah mulai retak-retak. Tanaman padi yang baru berusia dua bulan tersebut perlahan menguning akibat kekurangan pasokan air yang parah.

Guna menekan risiko kerugian petani, Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar mengambil langkah cepat dengan menggerakkan armada pemadam kebakaran (Damkar). Sebanyak dua unit mobil Damkar diterjunkan secara bergantian untuk menyiram areal persawahan yang kekeringan.

Mobil-mobil tersebut bolak-balik mengambil air dari sungai terdekat demi menjaga tanaman padi tetap bertahan hidup.

“Hari ini kami turun langsung meninjau ke lapangan. Memang kondisi kekeringan melanda beberapa desa di Polman, salah satunya di Rappang Barat ini yang mencapai kurang lebih 250 hektar,” ujar Bupati Polewali Mandar, Samsul Mahmud, saat meninjau lokasi penanganan kekeringan, Senin (27/7/2026).

Samsul menjelaskan bahwa potensi gagal panen sangat tinggi jika krisis air ini tidak segera ditangani secara responsif.

“Ini sangat berpengaruh terhadap hasil panen nantinya. Oleh karena itu, saya sudah instruksikan kepada Damkar untuk turun langsung mencari solusi darurat bersama dinas pertanian, penyuluh, dan kepala desa,” ungkapnya.

Menurut Samsul, kekeringan parah ini dialami oleh areal persawahan yang berada di luar jangkauan jaringan irigasi utama seperti Maloso Sekaseka. Selama ini, para petani hanya mengandalkan bendungan-bendungan kecil seperti Curede dan Pakejo yang kapasitas debit airnya sangat terbatas.

Petugas Pemadam Kebakaran semprotkan air ke sawah yang terdampak kekeringan. (Foto: Istimewa)

Untuk mengatasi persoalan ini secara permanen, Pemkab Polman berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) serta Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Barat.

Pihak BWS telah memulai proyek pengeboran sumur di satu titik dan direncanakan akan ditambah ke beberapa titik strategis lainnya. Dan pemerintah daerah berencana menambah kapasitas debit air pada bendungan-bendungan kecil agar cakupan irigasi lebih maksimal di masa mendatang.

Selain itu, Pemkab Polman juga meminta bantuan armada Damkar dari tingkat provinsi untuk memperkuat penanganan darurat di lapangan.

Tidak hanya mengancam sektor pertanian, musim kemarau panjang ini juga mulai memicu kelangkaan air bersih bagi pemukiman warga akibat sumur dangkal yang mengering dan gangguan distribusi PDAM.

Menanggapi hal tersebut, Samsul Mahmud memastikan seluruh pihak terkait terus bersinergi agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

“Kami siapkan semuanya. PDAM diminta mengoptimalkan layanannya, dibantu juga oleh Damkar dan Badan Pendataan/Penanggulangan Bencana. Kami terus berkoordinasi agar krisis air ini bisa kita lalui bersama,” pungkasnya.

Pemerintah daerah dan masyarakat setempat berharap curah hujan dapat segera turun dalam waktu dekat untuk memulihkan ketersediaan air di kawasan tersebut.