Ruang Redaksi – Serangan hama ulat grayak (Spodoptera) dilaporkan meluluhlantakkan puluhan hektare lahan bawang merah di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Kerugian petani akibat fenomena ini ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Merespons kondisi darurat tersebut, Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (Disbuntarnak) Polman langsung menerjunkan tim teknis untuk melakukan aksi nyata di lapangan, pada Senin (13/4/2026).

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Muhammad Yunus, memimpin langsung Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

Tim ini diperkuat oleh tenaga teknis PPPK serta kolaborasi dengan UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Sulawesi Barat melalui Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) Rea Timur.

Kegiatan pengendalian difokuskan di dua wilayah terdampak paling parah, yakni Kecamatan Balanipa dan Campalagian, yang mencakup Desa Bala, Lambanan, dan Suruang.

“Kami menyasar kelompok tani Siarendengan, Mesa Ate, Sipatiroi, dan Buana. Tanaman yang terserang rata-rata berada pada usia produktif, yakni 30 hingga 65 hari setelah tanam (HST),” ujar Muhammad Yunus di sela-sela kegiatan.

Berdasarkan data lapangan, intensitas serangan ulat di wilayah tersebut cukup masif:

Desa Bala: Dari 60 hektare lahan, 30 hektare terserang hama. Saat ini, 15 hektare telah berhasil ditangani melalui penyemprotan massal.

Desa Lambanan: Luas serangan mencapai 10 hektare dari total 30 hektare lahan. Pengendalian telah dilakukan pada 6 hektare lahan.

Desa Suruang: Luas serangan mencapai 3 hektare dari total 5 hektare lahan.

Secara akumulatif, tim telah melakukan pengendalian pada 21 hektare lahan dari total 43 hektare area yang terkonfirmasi terserang hama.

Dalam operasi ini, petugas menggunakan insektisida Meta-hipo 400 SL guna menekan populasi hama secara instan dan memutus siklus hidup ulat yang berkembang pesat dalam beberapa pekan terakhir.

Tidak hanya melakukan penyemprotan, pemerintah juga memberikan edukasi teknis kepada petani. Kepala LPHP Rea Timur Polman, Yonatan Tunggaldinata, menekankan pentingnya pengendalian terpadu agar serangan serupa tidak terulang di masa depan.

“Petani sangat disarankan melakukan perlakuan benih (seed treatment) sebelum tanam dan menerapkan rotasi tanaman dengan komoditas legum atau kacang-kacangan untuk memutus rantai makanan hama secara berkelanjutan,” jelas Yonatan.

Merespons saran tersebut, kelompok tani di wilayah terdampak langsung mengajukan permohonan bantuan benih kacang hijau untuk program rotasi lahan.

Kebutuhan benih yang diusulkan mencakup area seluas 60 hektare di Desa Bala, 30 hektare di Desa Lambanan, dan 10 hektare di Desa Suruang.

Diakhir kegiatan, Muhammad Yunus menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti pada aksi satu hari ini saja.

“Kami akan terus melakukan pemantauan ketat dan pendampingan. Prioritas kami adalah memastikan pengendalian ini efektif dan meminimalkan dampak ekonomi yang lebih besar bagi petani di Polewali Mandar,” pungkasnya.