Ruang Redaksi — Bupati Polewali Mandar (Polman), Samsul Mahmud, resmi melantik dr. Irwandi sebagai Direktur definitif Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Hajja Andi Depu. Prosesi pelantikan ini berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Polman bersama dengan 9 pejabat lainnya, pada Jumat (2/7/2026),

Scroll Untuk Lanjut Membaca

dr. Irwandi yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Polewali Mandar ini, telah mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur di rumah sakit tersebut sejak Januari 2026.

Sebagai seorang dokter spesialis bedah yang sudah lama mengabdi di sana, dr. Irwandi menegaskan komitmennya untuk melakukan pembenahan besar-besaran, khususnya pada manajemen pelayanan di rumah sakit bertipe kelas B tersebut.

Salah satu isu krusial yang menjadi sorotan masyarakat dan akan segera dieksekusi oleh dr. Irwandi adalah masalah lambatnya pelayanan farmasi.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, insyaallah, yang menjadi fokus utama kami adalah masalah layanan obat yang selama ini dikeluhkan karena antreannya terlalu lama. Kami akan berupaya keras mencarikan solusi konkret agar masyarakat bisa mendapatkan pelayanan yang jauh lebih cepat dan baik,” ujar dr. Irwandi setelah pelantikan.

Selain ruang farmasi, pembenahan juga menyasar area poliklinik, khususnya Poli Mata yang kerap mengalami penumpukan pasien. Sebagai langkah taktis, pihak manajemen langsung menambah fasilitas pelayanan per Juli ini.

“Kemarin kita hanya membuka satu poli mata. Namun, terhitung mulai tanggal 1 Juli kemarin, kita sudah resmi membuka dua poli mata sekaligus. Harapannya, penambahan ini bisa mengurai kepadatan pasien sehingga antrean menjadi lebih cepat,” jelasnya.

Saat ditanya mengenai pemicu utama seringnya terjadi penumpukan pasien, dr. Irwandi tidak menampik bahwa status RSUD Hajja Andi Depu sebagai rumah sakit rujukan utama membuat volume kunjungan pasien sangat tinggi dan fluktuatif.

“Sebenarnya tidak setiap hari antrean mengular. Namun, ada kondisi-kondisi tertentu di mana pasien benar-benar membludak. Di saat-saat seperti itulah sebagian pasien merasa waktu tunggu menjadi lebih lama,” tambahnya.

Menariknya, dr. Irwandi memilih bersikap realistis saat ditanya apakah ia berani menjamin “bebas antrean” dalam program 100 hari kerjanya.

Menurutnya, dinamika di rumah sakit rujukan tidak bisa disamakan dengan instansi administratif karena jumlah kunjungan pasien, baik di Poli maupun Unit Gawat Darurat (UGD), sangat sulit diprediksi secara matematis.

“Kalau untuk menjamin (bebas antrean) itu, saya tidak bisa. Kunjungan pasien itu tidak bisa kita prediksi, sama halnya dengan di UGD. Tapi yang bisa saya pastikan adalah kami akan terus berupaya maksimal agar setiap pasien yang datang terlayani dengan baik dan mendapatkan perawatan yang sesuai dengan standar operasional kami,” pungkasnya.