Ruang Redaksi — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam kawasan perkebunan kakao milik warga di Desa Beroangin, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sabtu (29/8/2026).
Hingga Sabtu sore, kobaran api masih berkobar dan mengancam vegetasi di sekitarnya akibat medan berkontur yang sulit ditembus armada pemadam.
Lokasi titik api berada di perbukitan tinggi, membuat unit mobil pemadam kebakaran (damkar) gagal menjangkau pusat kebakaran secara langsung.
Guna menanggulangi amukan si jago merah, Tim Gabungan Satgas Karhutla diterjunkan ke lokasi. Penanganan ini turut melibatkan kekuatan personel TNI dari Batalyon TP 917/Kris Muda Mandar yang membawa satu unit armada pemadam dan 14 personel, disokong dua unit armada Damkar Kabupaten Polman.
Pasiops Kodim 1402/Polman, Kapten Inf Ahmad Yani, membenarkan kendala geografis yang dihadapi tim gabungan di lapangan. Menurutnya, akses menuju titik api menjadi penghambat utama percepatan pemadaman.
“Personel dari Batalyon TP 917/Kris Muda Mandar sudah berada di lokasi dengan satu unit mobil Damkar dan 14 personel. Bantuan dua unit Damkar Polman juga sudah tiba,” ujar Kapten Inf Ahmad Yani.
“Medannya menjadi kendala utama karena titik api berada di ketinggian, sehingga tidak bisa dijangkau langsung oleh armada unit Damkar.”tambahnya.
Lantaran mobil pemadam tertahan di bawah bukit, petugas gabungan terpaksa melakukan pemadaman secara manual. Tim merangkak mendekati titik api di area terjal menggunakan peralatan seadanya yang memungkinkan dibawa menanjak.
Kondisi lahan perkebunan yang sangat kering akibat cuaca panas memperbesar risiko perluasan dampak kebakaran. Petugas berfokus melakukan penyekatan di garis vegetasi agar kobaran api tidak makin meluas merusak kebun kakao warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, proses pemadaman dan pendinginan masih terus berlangsung di titik-titik rawan. Penanganan ekstra ketat di Beroangin ini menjadi bagian dari kesiapsiagaan penuh Satgas Karhutla Kabupaten Polman dalam mengantisipasi ancaman karhutla di wilayah perbukitan.




