Ruang Redaksi — Kematian massal ternak babi secara mendadak meresahkan warga Dusun Salupaku, Desa Indomakkombong, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Hingga hari ini, total tercatat sebanyak 83 ekor babi mati dari total populasi 312 ekor milik 17 peternak setempat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dugaan kuat, wabah ini disebabkan oleh serangan virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika.

Berdasarkan hasil investigasi lapangan, penularan diduga kuat berasal dari luar daerah. Pada tanggal 3 Juni lalu, warga mendatangkan satu ekor babi hidup dari Kabupaten Mamasa untuk keperluan acara adat di desa.

Informasi dari warga setempat menyebutkan bahwa kondisi babi tersebut memang sudah dalam keadaan sakit saat tiba di Dusun Salupaku. Hanya berselang beberapa hari, tepatnya pada 9 hingga 10 Juni, gejala sakit dan kematian mulai menular serta menyebar luas ke ternak babi milik warga lainnya.

Hari ini, laporan kematian kembali bertambah sebanyak 5 ekor, membuat total akumulasi ternak yang mati menyentuh angka 83 ekor, sementara 76 ekor lainnya saat ini dilaporkan dalam kondisi sakit.

Merespons situasi darurat ini, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbuntarnak) Polman bergerak cepat. Investigasi lapangan dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Buntarnak Polman, Bapak Jumadil, bersama tim UPTD Kesehatan Hewan.

Tidak hanya itu, penanganan kasus ini juga mengandalkan kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Provinsi Sulawesi Barat serta Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros.

“Kami masih menunggu hasil uji laboratorium resmi dari BBVet Maros untuk memastikan apakah ini benar-benar ASF. Sampel berupa organ, darah, swab hidung, hingga feses sudah diambil. Hasil uji pertama diperkirakan keluar dalam waktu 5 hari kerja, dan jika diperlukan, uji lanjutan akan memakan waktu hingga dua minggu,” ujar Drh Isnania Bagenda, saat dikonfirmasi, Selasa (1/7/2026).

Guna menahan laju penularan agar tidak meluas ke wilayah lain, tim gabungan bersama pemerintah daerah telah menerapkan lima langkah taktis:

• Pengobatan Suportif: Memberikan suntikan obat medis, asupan vitamin, serta memanfaatkan obat-obatan tradisional untuk menjaga daya tahan tubuh babi yang masih sehat.
• Injeksi Serum: Pemberian serum khusus ASF sebagai langkah proteksi darurat.
• Pengetatan Biosecurity Melakukan sterilisasi dan desinfeksi massal pada kandang-kandang ternak di area terdampak.
• Edukasi Massal: Menyebarkan poster dan flyer edukasi kepada para peternak mengenai cara penanganan dan pencegahan virus.
• Sinyal Waspada untuk Desa Berisiko: Pemerintah mengeluarkan Surat Himbauan Kewaspadaan ASF ke beberapa wilayah kecamatan seperti Kecamatan Polewali, Matakali dan Kecamatan Tapango.

Para peternak diimbau untuk sementara waktu membatasi lalu lintas keluar masuknya ternak babi dari dan ke wilayah mereka guna mencegah perluasan area wabah.