Ruang Redaksi – Proses seleksi calon sapi bantuan kemasyarakatan (Banmas) dari Presiden Prabowo Subianto untuk wilayah Sulawesi Barat tahun 2026 mulai memasuki tahapan krusial.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tahun ini, Sulawesi Barat kembali mendapatkan alokasi tujuh ekor sapi kurban, yang akan disebar ke enam kabupaten dan satu untuk tingkat provinsi.

Hingga saat ini, sebanyak 15 ekor sapi dari berbagai daerah di Sulbar telah masuk dalam radar tim seleksi. Menariknya, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) kembali mengukuhkan posisinya sebagai sentra peternakan unggulan dengan menyumbangkan kandidat terbanyak.

Dari total 20 peternak yang mendaftar di Polman, sebanyak 8 ekor dinyatakan masuk kriteria awal. Bahkan, tiga di antaranya memiliki bobot fantastis di atas satu ton, yang menjadi prioritas utama tim seleksi.

Berdasarkan data, sapi-sapi dari Polman yang masuk nominasi yang memiliki bobot diatas 1 ton antara lain.

1. “Bagong” milik Muh. Nur (Limosin, 1.150 Kg) asal Wonomulyo.

2. “Bima” milik H. Iskandar Ngani (Simental, 1.053 Kg) asal Sugihwaras.

3. “Blecki” milik Muhammad Yusuf (Brangus, 1.011 Kg) asal Bumimulyo.

“Kriteria sapi bantuan Presiden tahun ini minimal beratnya harus di atas 800 kg. Namun, kami tetap memprioritaskan yang beratnya mencapai 1 ton. Di Polman sendiri, ada tiga ekor yang sudah memenuhi syarat berat tersebut,” ujar Kabid peternakan kesehatan hewan Sulbar Nur Kadar, Jumat (17/4/2026).

Berbeda dengan Polman yang melimpah, beberapa kabupaten lain masih kesulitan memenuhi kriteria berat minimal. Kabupaten Mamasa dipastikan tidak mengirimkan kandidat tahun ini karena belum adanya sapi hasil inseminasi buatan (IB) yang mencapai bobot 800 kg.

“Di Mamasa belum ada yang memenuhi syarat, jadi alokasinya kemungkinan akan diambil dari kabupaten lain seperti Polman atau daerah sekitarnya. Sementara untuk Majene ada satu calon, tapi posisinya masih mepet di angka 800 kg, jadi perlu kami pastikan lagi kondisinya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, terkait mekanisme harga, pihak istana akan melakukan tawar-menawar langsung berdasarkan pengajuan dari peternak dengan mengacu pada harga rata-rata di kabupaten.

“Harga yang disepakati nantinya bersifat all-in atau mencakup biaya pemeliharaan hingga hari H, biaya transportasi ke lokasi penyembelihan, serta jaminan kesehatan,” jelasnya.

Mengingat ini adalah sapi untuk orang nomor satu di Indonesia, faktor kesehatan dan keamanan menjadi harga mati. Peternak diingatkan untuk menjaga ekstra ketat kondisi fisik sapi agar kejadian tidak diinginkan pada tahun-tahun sebelumnya tidak terulang.

“Kami sampaikan ke peternak, kalau nanti terpilih, tolong diperhatikan betul masalah keamanannya. Fisik dan kesehatan harus dikawal total sampai hari penyembelihan. Ini adalah sapi Presiden, jadi standar kualitasnya harus terjaga sesuai syariat Islam dan standar kesehatan hewan,” tegasnya.

Penyaringan akhir akan terus dilakukan hingga diperoleh 7 ekor sapi terbaik yang benar-benar layak menjadi kurban bantuan Presiden Prabowo.