Ruang Redaksi — Musim kemarau panjang kembali memukul sektor pertanian di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ratusan hektar tanaman padi milik warga di Desa Barumbung, Kecamatan Matakali, dipastikan gagal panen setelah mengering akibat krisis air selama beberapa bulan terakhir.
Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi para petani setempat. Padahal, tanaman padi mereka dijadwalkan memasuki masa panen bulan ini. Namun, sebelum sempat mengeluarkan bulir, tanaman justru layu dan mati di atas tanah yang retak-retak.
Selain kemarau panjang, jaringan irigasi yang buruk menjadi akar masalah utama di wilayah tersebut. Selama ini, para petani di Desa Barumbung murni mengandalkan air hujan (sawah tadah hujan). Begitu kemarau melanda dalam durasi panjang, pasokan air praktis lumpuh total.
“Kami tidak bisa berbuat banyak. Padi yang harusnya dipanen bulan ini malah kering duluan sebelum berbuah,” ujar Aling salah seorang petani setempat, Kamis (24/9/2026).
Kerugian material yang ditanggung petani pun tak terhindarkan. Seluruh modal yang dikucurkan untuk pembibitan, pembelian pupuk, hingga biaya perawatan lahan menguap tanpa menghasilkan pendapatan.
Meski sebagian kecil petani masih sempat memetik hasil dari sisa lahan yang bertahan, jumlah gabah yang dipanen jauh dari kata cukup dan merugi dari sisi modal usaha.
Fenomena tahunan yang terus berulang ini memicu keprihatinan warga. Masyarakat Desa Barumbung kini menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dan instansi terkait untuk segera menyalurkan bantuan serta solusi jangka panjang.
Mereka mendesak langkah konkret dari pemerintah, seperti pembangunan saluran irigasi teknis maupun pengadaan bantuan sumur bor dan pompa air. Tanpa intervensi infrastruktur dasar tersebut, slogan pemerintah untuk “mewujudkan pertanian maju, mandiri, dan sejahtera bersama petani” dinilai hanya sebatas retorika saja.




