Ruang Redaksi — Perum Bulog Kantor Cabang Polewali Mandar (Polman) bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polres Polman menggelar monitoring dan evaluasi mendadak di sejumlah Kios Rumah Pangan Kita (RPK) yang tersebar di wilayah Kabupaten Polman, Sulawesi Barat.
Langkah ini dilakukan guna memastikan distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) berjalan lancar, stok melimpah di pasar tradisional, serta disalurkan tepat sasaran kepada masyarakat.
Monitoring menyasar sejumlah titik krusial, di antaranya Pasar Sentral Pekkabata, Pasar Wonomulyo, serta kawasan pedagang di Kecamatan Matakali dan Kecamatan Binuang.
Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Polman, Hadir Alamsyah, menyampaikan bahwa peninjauan lapangan ini krusial untuk memastikan para mitra menjual beras subsidi sesuai aturan yang telah ditetapkan pemerintah.
“Monitoring ini untuk memastikan penjualan beras SPHP sesuai ketentuan dan menjamin alur distribusinya berjalan tanpa kendala di tingkat pedagang,” ujar Hadir Alamsyah.
Dari hasil pantauan di lapangan, seluruh mitra RPK terbukti menjual beras SPHP sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni maksimal Rp62.500 per kemasan 5 kilogram. Para pedagang menjual beras tersebut pada kisaran harga Rp59.000 hingga Rp62.000 per kemasan.
Beras SPHP kini menjadi primadona yang paling diburu masyarakat. Selain harganya yang terjangkau, kualitas beras yang disalurkan Bulog juga dinilai sangat baik oleh konsumen. Tinggi Permintaan ini membuat rata-rata Kios RPK memesan 1 hingga 2 ton beras SPHP setiap minggunya.
Saat ini, Bulog Polman telah bermitra dengan sedikitnya 189 Kios RPK yang tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Polman. Tak hanya beras SPHP, Bulog juga turut menyalurkan beras premium demi menjaga stabilitas dan kecukupan pasokan pangan di pasaran.
Selain menjaga stabilitas harga di tingkat eceran, Bulog Polman memastikan pasokan cadangan beras dalam kondisi sangat aman.
Cadangan pangan sebesar 32 ribu ton yang tersimpan di kompleks gudang strategis Kabupaten Polman dan Kabupaten Majene dipastikan mampu menopang kebutuhan masyarakat di tiga kabupaten hingga 11 bulan ke depan.
Ketersediaan stok yang melimpah ini makin mempertegas peran vital Sulawesi Barat sebagai salah satu simpul utama penyangga ketahanan pangan nasional, khususnya di wilayah Indonesia Timur.




