Ruang Redaksi – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang biasanya riuh dengan canda tawa ratusan siswa baru, terasa begitu sunyi di SDN 023 Todang-Todang. Sekolah yang terletak di Desa Todang-Todang, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat ini hanya berhasil menjaring dua orang murid baru untuk tahun ajaran kali ini.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sejak Senin (13/7/2026) lalu, kedua bocah tersebut tampak canggung mengikuti kegiatan MPLS. Mereka menjadi “aset” terbaru di sekolah yang kini hanya memiliki total 20 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6.

Minimnya jumlah penduduk dan tren merantau warga setempat disinyalir menjadi penyebab utama sepinya peminat di sekolah ini.

Kepala Sekolah SDN 023 Todang-Todang, Sudarmi, mengungkapkan bahwa kondisi krisis siswa ini bukan hal baru. Faktor demografi menjadi tembok besar bagi keberlangsungan sekolah.

“Siswa baru kami tahun ini hanya dua orang karena jumlah masyarakat di sini memang sangat sedikit. Hanya ada sekitar 50 Kepala Keluarga (KK). Biasanya, warga yang baru berkeluarga langsung memilih keluar kota untuk mencari nafkah,” ujar Sudarmi saat dikonfirmasi, Kamis (16/7/2026).

Ironisnya, di tengah populasi yang sangat minim tersebut, terdapat empat sekolah dasar yang harus saling berbagi calon murid. Sudarmi menyebut, kondisi ketiga sekolah tetangga tersebut sama-sama krisis siswa.

“Kondisi di daerah kami memang unik, banyak sekolah tapi penduduknya sedikit. Makanya di sini tidak berlaku sistem zonasi, karena setiap ada sekolah, ya hanya penduduk di sekitar situ saja yang mendaftar,” ungkapnya.

Dengan total 20 siswa, SDN 023 Todang-Todang harus memutar otak dalam mengatur kegiatan belajar mengajar (KBM). Berdasarkan data sekolah, sebaran siswa per kelas sangat timpang, Kelas 1 hanya memiliki dua siswa, Kelas 2, empat siswa, Kelas 3 lima siswa, Kelas 4 satu siswa, kelas 5 empat siswa dan Kelas 6 empat siswa.

Keterbatasan infrastruktur memperumit keadaan. Sekolah ini hanya memiliki tiga ruang kelas fisik. Alhasil, manajemen sekat dan penggabungan kelas terpaksa dilakukan agar seluruh siswa bisa belajar.

“Kami terpaksa menggabungkan kelas karena ruangannya cuma tiga. Kelas 3 dan Kelas 4 kami gabung jadi satu ruangan karena siswa Kelas 4 hanya ada satu orang. Terkadang, siswa Kelas 4 yang sebatang kara itu kami bawa belajar di kantor kepala sekolah agar tidak saling mengganggu,” jelas Sudarmi.

Sementara itu, sebagian siswa Kelas 2 juga terpaksa mengungsi ke ruang kantor karena ruang kelas belum disekat secara permanen. Kondisi darurat ini telah berlangsung sejak Sudarmi pertama kali menjabat sebagai kepala sekolah pada tahun 2022 lalu.

Di balik sunyi nya ruang kelas, ada dedikasi luar biasa dari para pendidik. SDN 023 Todang-Todang tercatat memiliki 12 orang staf, yang terdiri dari, 7 orang guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), 4 orang guru honorer/sukarela dan 1 orang operator sekolah.

Hebatnya, tidak ada satu pun dari 12 tenaga pendidik ini yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selain itu, seluruh guru harus menempuh perjalanan yang tidak mudah karena mereka semua berasal dari luar Desa Todang-Todang. Untuk mencapai sekolah, mereka harus mengakses jalanan sepanjang belasan hingga puluhan kilometer setiap harinya.

Demi menarik minat warga menyekolahkan anaknya, para guru kerap melakukan langkah unik hingga merogoh kocek pribadi.

“Tahun lalu alhamdulillah ada 4 siswa, tapi sekarang turun lagi jadi 2. Untuk menarik minat siswa baru, kami biasa berinisiatif membagikan baju seragam gratis agar mereka mau masuk ke sekolah kami. Itu hasil patungan dari guru-guru,” ungkap Sudarmi.

Meski didera keterbatasan, Sudarmi menegaskan bahwa proses belajar mengajar tidak boleh berhenti. Hak pendidikan bagi anak-anak di pelosok Limboro harus tetap terpenuhi.

Namun, ia sangat berharap pemerintah daerah maupun pusat bisa memberikan perhatian lebih, khususnya dalam perbaikan infrastruktur sekolah.

“Harapan saya selaku kepala sekolah dan juga mewakili para guru, semoga pemerintah bisa memberikan bantuan berupa tambahan ruang kelas baru. Kami ingin proses belajar anak-anak berjalan dengan layak, nyaman, dan tidak perlu saling mengganggu satu sama lain lagi,” harapnya.