Ruang Redaksi – Menjelang waktu berbuka puasa, Pasar Sentral Pekkabata di Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat selalu dipadati warga. Dari sekian banyak penganan yang dijajakan, ada satu kuliner tradisional yang aromanya begitu menggoda yakni Bikang khas Suku Mandar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sekilas, tampilannya menyerupai serabi. Namun, Bikang Mandar memiliki karakteristik unik dengan bentuk yang lebih lebar, tekstur sedikit lebih tipis, dan permukaan berpori-pori yang melimpah.

Keistimewaan kue ini terletak pada kesederhanaan bahan dan proses pembuatannya yang masih tradisional. Terbuat dari campuran tepung beras, santan kelapa, dan sejumput garam, adonan ini dimasak di atas tungku api sedang.

Media masaknya pun khusus, yakni menggunakan tembikar dari tanah liat. Proses pematangan hanya memakan waktu sekitar 2 menit. Tanda kue sudah matang sempurna ketika permukaannya mulai memadat dan membentuk lubang-lubang kecil (pori) yang siap menyerap saus pemanis.

Tahap pamungkas yang membuat Bikang Mandar begitu dicari adalah siraman gula merah cair. Sensasi lembut dari adonan tepung beras yang berpadu dengan manisnya gula merah memberikan efek “lumer” seketika saat menyentuh lidah.

“Rasanya enak, gurih dari santan dan manis dari gula. Gulanya baru dicampur saat akan dimakan supaya tetap terasa segar dan lumer,” ujar Jumaati, salah satu pembuat bikang senior di Pasar Pekkabata.

Bagi Jumaati yang sudah berjualan selama 30 tahun, bulan Ramadan selalu membawa berkah tersendiri. Jika pada hari biasa ia menjual berbagai jenis kue, khusus di bulan puasa ia fokus pada menu andalannya yakni Bikang.

Jika hari biasa ia menghabiskan sekitar 6 liter adonan, namun di Bulan Ramadan permintaan meningkat hingga 10-12 liter adonan per hari.

Untuk menikmati kelezatan tradisional ini, pembeli cukup merogoh kocek Rp10 ribu untuk 3 porsi. Harga yang sangat terjangkau untuk sebuah cita rasa autentik yang mampu membangkitkan kenangan masa kecil sekaligus memuaskan dahaga manis saat berbuka.