Ruang Redaksi — Kerusakan tebing akibat erosi Sungai Pappandagan di Desa Pappandagan, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, kian mengkhawatirkan. Sebanyak 30 rumah warga yang berdiri di sepanjang bantaran sungai kini berada dalam kondisi kritis dan terancam hilang tergerus luapan air.
Erosi pada tepi dan tebing sungai tersebut membuat badan sungai terus melebar dan secara perlahan mengikis daratan serta pekarangan belakang pemukiman warga.
Menanggapi situasi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Polman bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta jajaran anggota DPRD Polman telah turun langsung meninjau lokasi bencana.
Anggota BPBD Polman, Abu, menjelaskan bahwa fenomena terkikisnya tebing sungai ini bukanlah hal baru, melainkan telah berlangsung sejak tahun 2018. Dampaknya kini semakin parah karena belum ada penanganan permanen.
“Kejadian erosi Sungai Pappandagan ini sudah terjadi sejak 2018 lalu dan terkikis secara perlahan. Jika tidak segera ditangani, erosi ini mengancam 30 kepala keluarga atau sekitar 30 unit rumah,” kata Abu, Senin (14/9/2026).
Menurut catatan BPBD Polman, erosi sungai saat ini telah memakan daratan pekarangan rumah warga hingga sepanjang 120 meter. Bahkan, fenomena ini sudah mulai memakan korban material bangunan.
“Sudah ada satu rumah yang bagian kamar mandinya hilang tergerus aliran sungai. Rumah tersebut akhirnya dipindahkan secara mandiri oleh pemiliknya lebih maju ke arah pinggir jalan,” ungkap Abu.
Berdasarkan hasil analisis awal BPBD Polman, terdapat dua faktor utama yang mempercepat laju erosi di tebing Sungai Pappandagan.
Maraknya aktivitas warga yang mengambil batu di dasar sungai mengurangi penahan alami arus. Hilangnya benteng batu sungai menyebabkan arus air mengalir jauh lebih deras sehingga langsung mengikis dinding tebing tanah di pinggir pemukiman.
Terkait langkah penyelamatan, penanganan darurat erosi ini akan ditangani langsung oleh Dinas PUPR Polman. Sebagai langkah awal, pemerintah daerah merencanakan normalisasi dan pengerukan dasar sungai menggunakan alat berat guna mengalihkan tekanan arus dari dinding tebing.




