Ruang Redaksi – Peristiwa memilukan kembali terjadi di pedalaman Sulawesi Barat. Akibat akses jalan yang tak kunjung dibuka sejak kemerdekaan, warga Desa Lenggo, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), terpaksa menandu jenazah sejauh 8 kilometer untuk mencapai rumah duka.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Jenazah atas nama Jusri, warga Dusun Lakkese, meninggal dunia di Puskesmas Bulo beberapa waktu lalu setelah menjalani perawatan intensif akibat penyakit maag akut. Namun, perjalanan terakhir almarhum menuju tempat peristirahatan tidaklah mudah.

Lantaran akses jalan yang hanya berupa jalan setapak dan tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, ambulans yang membawa jenazah hanya bisa mengantar hingga Desa Patambanua. Dari titik tersebut, puluhan warga harus bergantian menandu jenazah menggunakan tandu bambu sederhana.

Perjalanan yang memakan waktu sekitar 4 jam tersebut penuh dengan risiko. Warga tidak hanya melewati hutan lebat, tetapi juga harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai dengan arus yang cukup deras sambil memikul jenazah.

“Selama jalan ini ada, belum pernah tersentuh pembangunan. Sejak kemerdekaan Indonesia, kondisinya masih jalan setapak,” ujar Kepala Dusun Lakkese, Daeng Maloga, kepada wartawan, Sabtu (2/5/2026).

Kondisi memprihatinkan ini bukanlah hal baru bagi ratusan warga di Dusun Lakkese dan Dusun Petakeang. Selama puluhan tahun, warga yang sakit atau ibu yang hendak melahirkan harus ditandu sejauh 8 kilometer untuk mendapatkan layanan kesehatan di puskesmas.

Ironisnya, Maloga mengungkapkan bahwa kejadian tragis sering terjadi akibat buruknya infrastruktur ini. Sebelumnya, dilaporkan ada warga yang meninggal dunia di tengah jalan saat sedang ditandu, hingga ibu yang terpaksa melahirkan di jalan karena tidak sempat mencapai fasilitas kesehatan.

“Tidak kenal waktu, kalau sudah ada warga yang sakit, kami gotong royong menandu meski di tengah hujan atau malam hari. Perjalanan rata-rata memakan waktu 4 jam,” ungkap Maloga.

Meskipun Indonesia sudah merdeka selama puluhan tahun, warga di wilayah ini merasa dianaktirikan dalam hal pembangunan. Padahal, menurut Maloga, akses jalan yang rusak parah tersebut hanya tersisa sekitar 5 kilometer lagi untuk bisa terhubung dengan layak.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat segera membuka akses jalan tersebut agar aktivitas ekonomi dan akses kesehatan masyarakat tidak lagi terhambat.

“Kami sangat berharap pemerintah segera membangun jalan di wilayah ini. Jalan ini bukan masuk kawasan (hutan lindung), jadi sangat layak untuk dibuka. Kami hanya ingin akses yang layak,” pungkasnya.