Ruang Redaksi — Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi V Mamuju mengimbau para petani di Desa Barumbung, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, untuk pandai dan bijak dalam mengatur skema pembagian air irigasi dari bantuan sumur bor tenaga surya (solar cell).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Langkah ini penting dilakukan agar debit air yang ada dapat terbagi secara adil dan merata, sehingga seluruh hamparan sawah milik warga mendapatkan jatah pasokan air yang cukup di tengah ancaman kekeringan musim kemarau.

Pejabat Pelaksana Kegiatan (PPK) BWS Sulawesi V Mamuju, Andi R Tenri Pattua, menjelaskan bahwa bantuan jaringan irigasi air tanah (JIAT) berbasis panel surya tersebut dirancang untuk mendukung ketahanan pangan dan program swasembada pangan nasional.

Dari total tiga titik bantuan yang dialokasikan di Desa Barumbung, dua titik sudah aktif dimanfaatkan warga masing-masing satu titik untuk JIAT yang telah beroperasi sejak 2025 dan satu titik untuk air baku. Sementara itu, satu titik sisanya saat ini masih dalam proses pengerjaan fisik di lapangan.

“Di Desa Barumbung ini ada tiga titik. Dua titik untuk irigasi air tanah (JIAT) mendukung swasembada pangan, dan satu titik lagi untuk pemenuhan air baku tanah,” kata Andi R Tenri Pattua kepada media, Selasa (13/10/2026).

Menjawab keluhan terkait besaran debit air, Andi Tenri menegaskan bahwa meskipun debit sumur bor berada di kisaran 2 liter per detik, infrastruktur pendukung yang dibangun BWS Sulawesi V sudah dirancang sanggup mengaliri hingga 10 hektar sawah per titik.

Hal itu dimungkinkan berkat adanya fasilitas bak penampung (reservoir) berkapasitas 32 meter kubik yang dilengkapi dengan boks bagi dan boks ukur.

“Secara teori, debit 1 liter per detik dapat mengairi hampir 2 hektar. Namun dengan adanya boks penampungan berkapasitas 32 kubik ini, air diakumulasikan sehingga mampu melayani hingga 10 hektar sawah per titik sumur bor,” terang Tenri.

Namun, ia menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan penyaluran air ini berada di tangan para petani sendiri melalui manajemen pembagian giliran yang tertib dan tanpa egoisme.

“Sistemnya mengandalkan boks bagi. Ketika satu petak sawah selesai diairi, pintu boks ditutup untuk mengalirkan air ke petak lainnya. Petani harus saling mengerti, pandai mengatur giliran, dan tidak boleh ada monopoli air,” tegasnya.

Mengenai transparansi anggaran, BWS Sulawesi V mengungkapkan bahwa alokasi anggaran per titik bantuan mencapai kisaran Rp1,8 miliar. Nilai tersebut terealisasi secara bervariasi di lapangan, dengan angka rata-rata di atas Rp1,7 miliar per titik.

Menurut Tenri, komponen pembiayaan terbesar terserap untuk tahapan pengeboran dalam, pengadaan unit pompa submersible, serta instalasi perangkat panel surya (solar cell) sebagai sumber energi ramah lingkungan.

Guna memastikan ketepatan sasaran sebelum pengeboran dilakukan, BWS Sulawesi V terlebih dahulu menerjunkan tim ahli geolistrik dari Balai Tanah untuk memetakan potensi akuifer air tanah di lokasi tersebut.

Terkait skema operasional dan pemeliharaan harian, BWS Sulawesi V Mamuju telah menyerahkan kunci pengelolaan fasilitas secara penuh kepada Pemerintah Desa Barumbung.

“Untuk pengoperasiannya sudah kami serahkan langsung ke Pak Desa setempat. Namun jika ke depan ada kendala teknis pemeliharaan dari Pemda, BWS siap turun tangan membantu,” tambah Tenri.

Pihak BWS Sulawesi V juga menegaskan siap mengevaluasi efektivitas sumur bor tersebut. Jika ke depan skema pembagian giliran air dinilai belum optimal mencukupi seluruh kebutuhan hamparan sawah warga, BWS terbuka untuk menerima usulan pengeboran titik baru di sekitar lokasi demi mengoptimalkan hasil panen petani.