Ruang Redaksi — Pemandangan kendaraan yang mengular hingga ke badan jalan masih menjadi warna harian di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Antrean panjang yang didominasi oleh kendaraan roda empat dan truk pengangkut ini mencapai ratusan meter, memicu kemacetan parah serta mengganggu arus lalu lintas di jalur utama. Sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi membuat para sopir harus merelakan waktu berjam-jam untuk menunggu giliran pengisian.

Krisis antrean BBM ini tidak hanya sekadar persoalan keterlambatan di jalan raya, melainkan telah memukul aktivitas ekonomi lokal secara langsung. Para sopir angkutan dan logistik mengeluhkan waktu kerja yang habis di area SPBU, sementara mobilitas masyarakat umum ikut tersendat akibat pasokan subsidi yang kerap tersendat.

Menanggapi hal tersebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Polman melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mengambil langkah tegas dengan turun langsung ke titik-titik SPBU rawan antrean. Penertiban ini didasarkan pada instruksi Surat Edaran Bupati Polman terkait pengawasan ketat distribusi BBM agar tepat sasaran.

Kasat Satpol PP Polman, Arifin Halim, mengungkapkan bahwa pihaknya menggelar inspeksi mendadak (sidak) dengan jadwal acak guna menangkap kondisi riil di lapangan. Hasilnya, petugas mendapati banyak celah kecurangan yang dilakukan oleh oknum pelangsir pihak yang sengaja memborong BBM bersubsidi secara berulang yang diduga akan dijual kembali dengan harga tinggi.

“Banyak mobil yang mungkin berniat mengantre tapi tidak memenuhi kriteria, sudah ada indikasi pelanggaran pengisian ganda (double), sehingga begitu melihat pengawasan ketat mereka langsung memilih balik kanan,” ujar Arifin.

Dalam operasi sebelumnya di SPBU Sarampu, petugas bahkan mendapati lima kendaraan yang terbukti melakukan pengisian secara berulang.  Pengendara maupun oknum yang kedapatan bolak-balik mengantre langsung diusir oleh petugas untuk memberikan kesempatan kepada warga yang benar-benar membutuhkan.

Sementara itu, Pengawas SPBU Wonomulyo, Ismail, menjelaskan bahwa pasokan BBM jenis Pertalite dan Solar yang dikirim ke SPBU mereka selama ini menyesuaikan dengan kuota permintaan harian (berkisar antara 16 hingga 24 kiloliter untuk Pertalite, serta 8 hingga 16 kiloliter untuk Solar).

Ismail mengeklaim antrean panjang turut dipicu oleh penerapan pembatasan nominal pembelian harian demi keadilan distribusi.

Sepeda motor Dibatasi maksimal Rp35.000 hingga Rp100.000 sementara Kendaraan roda empat Dibatasi antara Rp250.000 hingga Rp300.000.

Selain itu pihaknya juga tetap melayani nelayan atau petani menggunakan jerigen dengan menggunakan skema pengambilan terjadwal per minggu dengan menunjukkan rekomendasi resmi Dinas terkait.

Terkait isu adanya pengecer yang memberikan tip khusus kepada operator SPBU untuk meloloskan pembelian berlebih, Ismail memastikan pihaknya belum menemukan temuan tersebut di internal manajemennya.

Guna mengakhiri rantai antrean panjang yang meresahkan ini, Satpol PP Polman berencana untuk menyiagakan personel tetap di setiap SPBU rawan. Rencana penempatan 5 hingga 10 personel di tiap titik saat ini tengah dimatangkan agar distribusi BBM bersubsidi di Polman benar-benar bersih dari praktik pelangsir liar.