Ruang Redaksi – Gelombang keresahan melanda warga Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Isu rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dikabarkan akan berlaku pada April 2026 memicu aksi borong (panic buying) yang menyebabkan antrean kendaraan mengular di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Seperti yang terjadi di SPBU Polewali, sejak sore hingga malam antrian kendaraan mencapai sekitar 2 kilometer lebih. Ratusan warga rela mengantre hingga berjam-jam di bawah terik matahari demi memastikan tangki kendaraan mereka terisi.

Kekhawatiran akan kelangkaan stok dan lonjakan harga menjadi motor utama kepadatan di hampir seluruh SPBU di wilayah tersebut. Bahkan sejumlah warga terpaksa antri menggunakan jerigen  lantaran membeludaknya antrian yang ada di SPBU.

Kondisi ini diperparah dengan melambungnya harga BBM jenis Pertalite di tingkat pengecer atau kios-kios kecil. Akibat sulitnya mendapatkan stok di SPBU, harga Pertalite di tingkat bawah kini menyentuh angka yang fantastis, yakni berkisar antara Rp23.000 hingga Rp40.000 per botol (kemasan 1,5 liter).

Padahal, harga resmi di SPBU masih stabil di angka Rp10.000 per liter. Selisih harga yang sangat mencolok ini kian menambah kepanikan masyarakat, mengingat Pertalite merupakan kebutuhan vital untuk mobilitas harian.

Seorang warga asal Matakali, Faisal, mengaku telah berada di barisan antrean sejak pukul 14.30 WITA. Hingga pukul 17.00 WITA, ia belum juga mencapai mesin pompa.

“Saya sudah antre lebih dari 3 jam. BBM memang susah saat ini. Saya tidak berani pindah ke SPBU lain karena takut kondisinya sama saja, jadi percuma kalau kembali lagi,” ujar Faisal, saat ditemui dilokasi, Selasa (30/3/2026).

Ia menyebut  jika keputusannya ikut mengantre dipicu oleh informasi yang beredar luas di media sosial.

“Infonya saya dapat dari HP dan dengar dari orang-orang kalau bensin mau naik. Sebenarnya tidak apa-apa kalau naik, asalkan barangnya ada. Sekarang di pengecer semua kosong, makanya mau tidak mau harus antre di sini,” ungkapnya.

Menanggapi fenomena ini, Pengawas SPBU Polewali, Rusli, menegaskan bahwa sejauh ini pasokan BBM dari Pertamina masih berjalan normal tanpa ada pengurangan kuota. Ia menyebut situasi ini murni disebabkan oleh faktor psikologis massa.

“Masalah pasokan tetap normal, antara 16 sampai 24 ton per hari. Cuma masyarakat yang saya lihat agak panik karena isu-isu kenaikan harga itu. Suplai aman, tapi perilaku konsumsi masyarakat yang saat ini tidak normal,” jelas Rusli.

Untuk mengantisipasi kelangkaan yang lebih parah, pihak SPBU telah menerapkan pembatasan ketat sesuai regulasi Pertamina, untuk pengisian Mobil maksimal pembelian 50 liter, sementara Motor maksimal pembelian 7 liter dan Jerigen tidak dilayani kecuali untuk nelayan/bentor dengan rekomendasi khusus dan volume terbatas 5 liter.

“Satu minggu sebelum dan sesudah Lebaran, kami juga tidak melayani pembelian jerigen dengan rekomendasi untuk menjaga ketersediaan bagi kendaraan umum. Untuk bentor, kami fasilitasi maksimal 3 liter agar antrean tidak semakin kacau,” ungkap Rusli.

Hingga berita ini diturunkan, antrean di sejumlah SPBU di Polman masih terpantau padat. Warga berharap pemerintah segera memberikan klarifikasi resmi terkait isu kenaikan harga tersebut guna meredam spekulasi yang memicu kekacauan distribusi di tingkat bawah.