Oleh: Andi Baraq (Ketua GMNI Polman) 

Scroll Untuk Lanjut Membaca

 

Ruang Redaksi – Tepat pada 23 Maret 2026, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) genap berusia 72 tahun. Usia yang melampaui tujuh dekade ini bukan sekadar angka di kalender, melainkan jejak panjang organisasi yang lahir dari rahim nasionalisme sebagai penyambung lidah rakyat.

Lahir pada tahun 1954, GMNI dibentuk dengan mandat besar menjadi benteng ideologi bangsa. Namun, di tengah perayaan Dies Natalis kali ini, organisasi berlambang banteng ini dituntut untuk tidak terjebak dalam romantisme sejarah.

​Dinamika zaman saat ini dinilai jauh lebih kompleks dibandingkan era kolonialisme fisik. Tantangan kader GMNI masa kini telah bergeser dari melawan penjajah berseragam menjadi perjuangan melawan ketimpangan ekonomi, polarisasi digital, hingga pengikisan jati diri bangsa akibat arus globalisasi.

​”Di sinilah relevansi Marhaenisme kembali diuji,” tulis sebuah catatan refleksi organisasi. “Apakah ia masih menjadi pisau analisis yang tajam untuk membedah ketidakadilan, atau sekadar menjadi jargon yang menggema di ruang diskusi tanpa aksi nyata?”

Menghadapi masyarakat yang mudah terbelah oleh berbagai kepentingan, GMNI diharapkan hadir sebagai pengikat kesadaran nasional. Menjadi nasionalis di usia ke-72 berarti berani merangkul realitas sosial dan menjadikannya kekuatan transformasi.

Perubahan pola perjuangan pun menjadi sorotan utama. Kader GMNI ditekankan untuk tidak lagi hanya mengandalkan orasi di jalanan, tetapi juga bertransformasi melalui:

• ​Literasi Teknologi: Melek digital untuk memenangkan pertarungan gagasan di ruang siber.
• ​Inovasi Pendampingan: Tetap setia mendampingi petani, nelayan, dan buruh (kaum Marhaen) dengan metode yang adaptif terhadap zaman.
Intelektualitas: Mengedepankan kajian strategis dalam merespons kebijakan publik.

Dies Natalis ke-72 ini menjadi momentum bagi setiap kader untuk kembali ke akar perjuangan. GMNI diingatkan untuk tidak menjadi organisasi eksklusif atau sekadar batu loncatan politik praktis sesaat. Selama kemiskinan dan ketidakadilan masih terlihat di pelupuk mata, maka napas perjuangan GMNI tidak boleh berhenti.

Perayaan ini menjadi pengingat kolektif bahwa tugas sejarah belum usai. GMNI berkomitmen untuk tetap menjadi garda terdepan dalam membela hak-hak rakyat kecil dan membawa bangsa menuju arah yang lebih adil dan beradab.