Ruang Redaksi – Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Provinsi Sulawesi Barat bersama tim gabungan terus berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Desa Buana Sakti, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Hingga Minggu (11/10/2026) sore, tim di lapangan fokus mengendalikan pergerakan si jago merah melalui metode isolasi dengan membuat sekat atau jalur pemutus api.

Berdasarkan laporan TRC BPBD Sulbar, luas area terbakar pada titik utama di Desa Buana Sakti diperkirakan telah mencapai 20 hektare. Selain di lokasi tersebut, tim juga tengah melakukan asesmen terhadap dua titik api lainnya di kawasan Tommo 2 dan Tommo 5 untuk mengukur tingkat kerawanan dan luas dampak kebakaran.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Barat, Muhammad Yasir Fattah, menegaskan bahwa pembuat sekat isolasi menjadi strategi krusial untuk membatasi penyebaran api, terutama di tengah kendala minimnya pasokan air di lokasi kejadian.

“Metode isolasi menjadi salah satu langkah utama untuk membatasi pergerakan api, terutama ketika ketersediaan air menghadapi kendala di lapangan,” ujar Yasir Fattah.

Dalam operasi darurat ini, sebanyak 29 personel gabungan diterjunkan ke titik lokasi. Pasukan ini terdiri dari unsur BPBD Provinsi Sulbar (4 personel), BPBD Kabupaten Mamuju (9 personel), Manggala Agni Pondok Kerja Mamuju dan Palu (14 personel), serta BPBPK Sulbar (2 personel).

Guna mengepung pergerakan api, tim memfokuskan pembuatan jalur isolasi di sisi barat, timur, dan selatan area kebakaran. Khusus di sisi barat, petugas membuat sekat selebar lima meter dengan panjang 250 meter.

Hingga laporan terakhir diterima, total jalur pemutus api yang berhasil dibuat telah mencapai 450 meter. Dari total 20 hektare area yang membara, tim gabungan melaporkan telah berhasil mengendalikan sekitar 25 persen dari luas lahan terdampak.

Penanganan Karhutla ini mengacu pada instruksi Penjabat Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, serta koordinasi intensif bersama Sekretaris Daerah Sulbar, Junda Maulana. BPBD Sulbar terus memperkuat sinergi lintas instansi bersama BPBD Mamuju, Manggala Agni, Kementerian PU, serta unsur terkait lainnya.

Kendati demikian, petugas di lapangan menghadapi sejumlah tantangan berat. Selain kepulan asap pekat yang mulai mengganggu aktivitas warga sekitar, tim juga terkendala krisis ketersediaan sumber air serta keterbatasan kendaraan operasional penyuplai air ke titik api.

Atas kondisi tersebut, BPBD Sulbar mengimbau warga di sekitar lokasi kebakaran untuk meningkatkan kewaspadaan, mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah, dan segera melaporkan jika menemukan potensi titik api baru.

“Penanganan akan terus dilakukan secara terukur dengan mengutamakan keselamatan personel dan masyarakat, sekaligus mengupayakan agar penyebaran api dapat dikendalikan sepenuhnya,” pungkas Yasir Fattah.