Ruang Redaksi — Momen bersejarah tercipta di perairan Sulawesi Barat. Sebanyak 80 perahu tradisional Sandeq berlayar dan berlaga secara bersamaan dilepas dari Pantai Pamboang, Kabupaten Majene, Minggu (27/9/2026).
Sekitar pukul 08.00 WITA, pelepasan etape kedua ajang mahakarya maritim ini dilakukan oleh Ketua Dewan Pengarah Sandeq Silumba, Syamsul Samad, mewakili Gubernur Sulbar Suhardi Duka, dengan didampingi Danlanal Mamuju Letkol Laut (P) Gigih Aptya Anggara.
Sesaat setelah aba-aba pelepasan berkumandang, pemandangan spektakuler langsung tersaji. Puluhan perahu berlayar segitiga khas dengan corak warna-warni membentang gagah di atas permukaan air laut biru-turkuois. Namun, di balik keindahan visual tersebut, lautan langsung menyajikan ujian berat bagi para passandeq (pelaut Sandeq).
Cuaca ekstrem berupa hembusan angin kencang dan gelombang tinggi menyambut para peserta tepat di garis start. Ketangkasan para passandeq diuji habis-habisan saat menjaga keseimbangan perahu kayu yang langsing agar tidak terbalik membelah ombak.
Insiden pun tak terhindarkan. Perahu Surya Persada dihantam angin keras sesaat setelah melaju. Sementara itu, perahu Mandala mengalami kerusakan patah pada bagian struktur perahu. Meski demikian, semangat pantang menyerah ditunjukkan para awaknya yang tetap gigih melanjutkan pelayaran.
Ketua Dewan Pengarah Sandeq Silumba, Syamsul Samad, mengungkapkan bahwa etape kali ini menyajikan medan yang jauh lebih ekstrem ketimbang rute Sendana Pamboang sebelumnya.
“Tantangan hari ini cukup berat karena rutenya lebih panjang hingga tiga kali lipat dibandingkan rute sebelumnya. Kita berdoa dan berharap perjalanan berjalan lancar serta seluruh passandeq bisa sampai di garis finish dengan selamat,” ujar Syamsul di lokasi pelepasan.
Meskipun diwarnai cuaca menantang, atmosfer kemeriahan di tepi pantai tak surut sedikit pun. Ratusan warga dan penonton memadati pesisir pantai berpasir putih untuk menyaksikan momen langka berlayarnya 80 Sandeq secara bersamaan.
Sorak-sorai penonton menggema mengiringi laju perahu-perahu yang membelah lautan dan meninggalkan buih putih. Tak sedikit warga yang mengabadikan pemandangan indah gugusan layar putih yang mengarungi laut lepas tersebut menggunakan ponsel mereka.
Ajang tahunan ini tidak hanya menjadi simbol ketangguhan para pelaut Mandar dalam menaklukkan samudera, tetapi juga mempertegas komitmen Sulawesi Barat dalam merawat warisan kebudayaan maritim Nusantara.




