Ruang Redaksi – Keterbatasan sarana dan prasarana keselamatan armada Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Polewali Mandar (Polman) memakan korban.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Akibat tak memiliki ruang penumpang yang memadai, tujuh personel Damkar terpaksa bergelantungan di bagian luar armada hingga akhirnya mengalami luka serius saat mobil tangki air yang mereka tumpangi terguling di Jalan Trans-Sulawesi, Desa Tumpiling, Kecamatan Wonomulyo, Minggu (23/8/2026).

Insiden tragis ini membongkar fakta minimnya fasilitas keselamatan kerja yang dimiliki petugas lapangan. Saat armada bernomor polisi DC 1822 CY melaju kencang menuju lokasi kebakaran di Desa Bumiayu, tujuh personel tidak mendapatkan tempat duduk di dalam kabin. Mereka terpaksa bertaruh nyawa menempati posisi rentan di bagian belakang mobil, persis di area mesin pompa air.

Kecelakaan terjadi saat armada Damkar yang menyalakan sirine dan lampu rotator coba mendahului sebuah mobil SUV Mitsubishi Pajero. Kendaraan di depannya tiba-tiba memotong jalur tanpa memberikan ruang. Demi menghindari benturan, pengemudi truk membanting setir ke kanan. Nahas, beban muatan sekitar 4.000 liter air membuat truk oleng tak terkendali lalu terguling di tengah jalan.

Para petugas yang bergelantungan di luar seketika terpental ke aspal. Benturan keras membuat mayoritas korban mengalami luka robek hingga cedera parah di bagian kepala, tangan, dan kaki.

Kepala UPTD Damkar Polman, Imran, yang saat kejadian berada di kabin depan bersama pengemudi, mengakui bahwa posisi bahaya para anggotanya terpaksa diambil lantaran tidak ada pilihan moda transportasi lain.

“Memang tidak ada tempat lain untuk mereka gunakan ke lapangan. Keterbatasan fasilitas itu kondisi kami saat ini,” ujar Imran mendampingi para anggotanya di rumah sakit.

Ketiadaan armada personel pendukung yang terpisah dari mobil pompa air memaksa para petugas mempertaruhkan keselamatan setiap kali bertugas merespons panggilan darurat.

Tujuh personil yang berada diluar kabin dan supir mengalami luka sempat dievakuasi ke RSUD Wonomulyo sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Hajja Andi Depu untuk mendapatkan penanganan medis intensif.

Tragedi ini menjadi tampar keras bagi pemerintah daerah akan pentingnya peremajaan dan penyediaan fasilitas armada penanggulangan bencana yang layak serta aman bagi para petugas di garis depan.