Ruang Redaksi – Hujan deras yang mengepung wilayah Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, selama beberapa hari terakhir memicu kerusakan infrastruktur yang fatal. Jembatan penghubung antar-kecamatan di Dusun Pussepang, Desa Jambu Malea, Kecamatan Tapango, amblas pada Senin (4/5/2026) pagi.
Peristiwa ini mengakibatkan nadi perekonomian dan akses pendidikan di wilayah tersebut terganggu. Jembatan sepanjang 25 meter dengan lebar 4 meter itu kini dalam kondisi rusak parah. Jangankan mobil, sepeda motor pun dilarang keras melintas demi keselamatan warga.
Jembatan yang dibangun sejak tahun 1975 ini amblas sedalam satu meter setelah fondasinya tak lagi sanggup menahan hantaman air dari hulu. Faktor usia menjadi sorotan tajam, mengingat infrastruktur ini tercatat baru satu kali mendapatkan renovasi selama setengah abad berdiri.
Kepala Desa Jambu Malea, Hapil, menceritakan detik-detik ambruknya struktur jembatan tersebut kepada awak media di lokasi.
“Semalam hujan deras dari hulu, akhirnya air meluap dan menghantam jembatan. Sekitar pukul 09.00 WITA, jembatan langsung ambruk,” ujar Hapil.
Putusnya jembatan ini menjadi pukulan berat bagi warga di tiga kecamatan sekaligus, yakni Tapango, Mapilli Bulo, dan Matangnga. Jalur ini merupakan rute utama menuju pusat ekonomi di Wonomulyo.
Meski ada jalur alternatif, warga harus memutar otak dan tenaga karena jaraknya yang sangat jauh.
“Kalau harus memutar lewat Desa Rappang Barat menuju Desa Sila-Sila, jaraknya bisa sampai 20 kilometer lebih. Ini sangat menyulitkan, terutama bagi anak sekolah yang terancam terlambat setiap hari,” keluh Hapil.
Ironisnya, ancaman ambruknya jembatan ini sebenarnya sudah diprediksi. Pihak desa mengaku telah berulang kali menyuarakan urgensi perbaikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang), namun hasilnya nihil realisasi dari Pemkab Polman.
Hapil kini menagih janji Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat yang sebelumnya sempat melakukan peninjauan lapangan.
“Bulan puasa lalu, ada Kabid dari provinsi yang datang mengukur. Katanya mau dibangun tahun ini. Kami mohon, kalau anggarannya ada, jangan ditunda lagi. Percepat pembangunannya karena ini urat nadi beberapa kecamatan,” tegasnya.
Saat ini, warga bersama petugas telah memasang garis polisi di kedua ujung jembatan. Harapan kini tertumpu pada langkah cepat pemerintah untuk segera memberikan penanganan darurat agar mobilitas warga dan pengangkutan hasil bumi tidak terhenti total.




