Ruang Redaksi – Ada pemandangan berbeda dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, Jumat (1/5/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Jika biasanya 1 Mei identik dengan aksi unjuk rasa dan orasi di jalanan, Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Cabang Polman justru memilih turun ke masyarakat dengan menggelar pasar murah.

Bertempat di kompleks Pasar Pekkabata, Kecamatan Polewali, kegiatan ini menjadi magnet bagi warga yang antusias berburu sembako dengan harga miring. Langkah ini diambil sebagai aksi nyata para buruh dalam membantu ekonomi masyarakat yang dinilai belum stabil.

Bekerja sama dengan Bulog serta Dinas Pertanian dan Pangan, pasar murah ini menyediakan berbagai kebutuhan pokok mulai dari beras, telur, minyak goreng, hingga gula. Seluruh komoditas tersebut dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).

Ketua Koordinator Wilayah (Korwil) KSBSI Sulawesi Barat, Muhammad Rafi, mengungkapkan bahwa keputusan untuk tidak turun ke jalan adalah hasil evaluasi organisasi. Menurutnya, demonstrasi selama ini seringkali tidak memberikan solusi instan bagi persoalan yang dihadapi masyarakat dan buruh.

“Demo itu sebenarnya tidak menyelesaikan persoalan secara langsung. Dengan aksi nyata di lapangan seperti hari ini, kita langsung membantu masyarakat. Aspirasi kami tetap tersampaikan, namun dengan cara yang lebih elegan dan bisa langsung didiskusikan dengan para pemangku kepentingan yang hadir di sini,” ujar Rafi di lokasi kegiatan.

Meski format peringatannya berubah, Rafi menegaskan komitmen KSBSI dalam memperjuangkan hak-hak pekerja, seperti perlindungan tenaga kerja dan kesejahteraan buruh, tetap menjadi prioritas utama.

Inisiatif berbeda dari KSBSI ini mendapat pujian langsung dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kadis Nakertrans) Sulbar, Andi Farid Amri, menyebut langkah ini sebagai bentuk kedewasaan dalam berorganisasi.

“Kami sangat mengapresiasi. Ini mencerminkan perubahan paradigma dalam memperingati May Day. Dari yang sebelumnya identik dengan unjuk rasa, kini bergeser menjadi aksi sosial yang memberi manfaat langsung,” kata Andi Farid.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, serikat buruh, dan dunia usaha seperti ini terus diperkuat untuk menciptakan hubungan industrial yang harmonis.

“Kami ingin ini menjadi agenda rutin. Bukan hanya menjaga stabilitas daerah, tapi juga benar-benar mendorong kesejahteraan pekerja dan masyarakat luas di tengah kondisi ekonomi yang menantang,” pungkasnya.