Ruang Redaksi – Suara derap kaki kuda dan denting lonceng bendi memecah keheningan jalanan di Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Bukan sekadar jalan-jalan, puluhan ibu-ibu yang tergabung dalam Majelis Pengajian Al-Balina tengah melaksanakan tradisi unik dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Dengan balutan busana muslim yang rapi, para emak-emak ini memilih bendi (delman khas lokal) sebagai moda transportasi utama untuk melakukan wisata religi ziarah makam para penyebar agama Islam di Tanah Mandar.
Rombongan ini memulai perjalanan dari Kecamatan Tinambung menuju Kecamatan Campalagian. Jarak sekitar 15 kilometer tidak menyurutkan semangat mereka. Sepanjang perjalanan, pemandangan kereta kuda yang beriringan ini menarik perhatian warga sekitar.
Tak hanya sekadar melintas, para anggota majelis taklim ini juga menyelipkan pesan-pesan dakwah. Mereka mengajak masyarakat yang ditemui di sepanjang jalan untuk menyambut bulan suci Ramadhan dengan hati yang bersih dan penuh suka cita.
Wisata religi ini difokuskan pada tiga titik makam ulama besar yang memiliki pengaruh kuat dalam sejarah Islam di Sulawesi Barat.
Mulai dari Makam Syekh KH. Muhammad Saleh: Terletak di Pambusuang, Kecamatan Balanipa. Sosok ini dikenal sebagai ulama kharismatik yang meletakkan dasar pendidikan Islam di wilayah tersebut.
Kemudian lanjut ke Makam Habib Alwi bin Abdullah bin Sahil Jamalullail: Berlokasi di Desa Bonde, Kecamatan Campalagian.
Dan Makam KH. Muhammad Tahir (Imam Lapeo): Terletak di Lapeo, Campalagian. Tokoh ini merupakan salah satu ulama paling tersohor di Tanah Mandar yang dikenal dengan karamah dan perjuangan dakwahnya.

Ketua Majelis Pengajian Al- Ballina, Sabahan Nur Arifin, mengatakan, jika pihaknya sengaja memili transportasi Bendi untuk melestarikan transportasi lokal yang selama ini mulai jarang terlihat.
“Tradisi menggunakan bendi ini sengaja dipertahankan untuk menjaga kearifan lokal sekaligus menciptakan suasana yang berbeda dan syahdu sebelum memasuki bulan puasa,” ujar salah satu peserta ziarah.
Menurutnya, kegiatan wisata religi ini hampir setiap tahun dilakukan untuk menyambut bulan suci ramadhan.
“Ini sudah ke 8 kalinya semenjak kami camat di balanipa sampai sekarang ini sudah yang ke 8 kalinya kita menggunakan alat transportasi, namun tahun ini sangat berbeda mengingat alat transportasi bendi ini semakin berkurang dengan adanya alat transportasi canggih seperti bentor dan motor,” jelasnya.
Ia menjelaskan, wisata religi ke makam para ulama di tanah mandar, bukan hanya seremonial saja, selain untuk mempererat silaturahmi sesama majelis taklim, kegiatan ini juga untuk mengetahui seperti apa perjuangan para ulama untuk menyebar agama Islam ditanah mandar.
“Secara garis besarnya wisata religi ini ke makan para ulama bukan sekedar tradisi tetapi bagaimana kita mengelola batin kita untuk selalu mendekatkan diri kepada allah SWT,” jelasnya
Ziarah makam ini menjadi pengingat bagi warga akan jasa para ulama terdahulu, sekaligus menjadi momentum mempererat tali silaturahmi antar anggota pengajian sebelum fokus menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.




