Ruang Redaksi – Di sebuah gubuk kayu berukuran 3×4 meter di Desa Lagi-Agi, Kecamatan Campalagian, waktu seolah membeku bagi Nurmadina (8) dan adiknya, Fadlan (5). Saat anak-anak seusia mereka riang main, kakak beradik ini hanya bisa terduduk diam, terbelenggu kelumpuhan yang merenggut paksa masa kecil mereka.
Namun, di tengah keterbatasan itu, sebuah “keajaiban” datang dalam bentuk pemenuhan janji.
Rabu sore (11/02/2026), suasana haru pecah saat Hj. Fatmawati Salim, istri mendiang mantan Wakil Gubernur Sulbar, Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga, melangkah masuk ke rumah sempit tersebut.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni santunan biasa. Ini adalah penunaian amanah terakhir sang Jenderal yang diucapkan tepat beberapa jam sebelum ia menghembuskan napas terakhir.
Kisah di balik kunjungan ini menyisakan getaran emosional yang mendalam. Seorang pemuda setempat menceritakan momen tak terlupakan pada malam sebelum sang Jenderal wafat. Sekitar pukul 22.00 WITA, almarhum sempat menghubunginya hanya untuk menanyakan kondisi Nurmadina dan Fadlan.
“Beliau menanyakan keadaan dua anak itu dan berpesan ingin memberikan bantuan modal usaha dari kantong pribadi. Beliau memerintahkan saya untuk segera menemui orang tuanya besok pagi,” kenang pemuda tersebut.
Takdir berkata lain. Esok paginya, kabar duka menyelimuti Sulawesi Barat. Sang Jenderal berpulang, namun kekhawatirannya terhadap dua bocah di Campalagian itu menolak untuk ikut terkubur.
Hj. Fatmawati Salim mengungkapkan bahwa suaminya masih menyebut nama kedua anak tersebut dalam percakapan terakhir mereka di malam Sabtu.
“Malam sebelum beliau pergi, dua anak ini kembali beliau sebutkan. Hari ini, saya datang untuk melanjutkan niat baik itu dan memastikan amanah beliau tersampaikan,” ujar Fatmawati saat menemui keluarga Sahabuddin dan Sumiati.
Kondisi fisik Nurmadina dan Fadlan yang layu karena keterbatasan biaya pengobatan menjadi pemandangan menyayat hati. Ayah mereka, Sahabuddin, yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan, mengakui bahwa membawa kedua buah hatinya ke rumah sakit adalah mimpi yang terlampau mahal.
Dalam kunjungan tersebut, Fatmawati menyerahkan bantuan modal usaha agar keluarga Sahabuddin dapat berdaya secara ekonomi. Tak berhenti di situ, ia juga menjanjikan pendampingan jangka panjang untuk memastikan kedua anak tersebut mendapatkan perawatan medis yang layak.
Kehadiran Fatmawati disambut isak tangis haru. Keluarga Sahabuddin tak menyangka, di tengah suasana duka yang masih menyelimuti keluarga besar almarhum, mereka tetap mendapatkan perhatian yang begitu besar.
Bagi mereka, wasiat almarhum Salim S. Mengga adalah jembatan harapan. Kini, Nurmadina dan Fadlan tak lagi hanya menatap dunia dari balik jendela gubuk yang sempit. Jejak kemanusiaan sang Jenderal yang diteruskan oleh sang istri telah membuka jalan bagi mereka untuk menjemput hak hidup yang lebih layak.
Langkah ini menegaskan satu hal: meski raga telah tiada, nilai kepedulian yang diwariskan Salim S. Mengga tetap hidup dan terus menyentuh hati mereka yang paling membutuhkan.




