Ruang Redaksi — Ada berbagai cara unik yang dilakukan masyarakat untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan. Di Desa Barumbung, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, sekelompok remaja menunjukkan kreativitasnya dengan memanfaatkan barang bekas sebagai alat musik tradisional untuk membangunkan warga bersahur.
Bukan menggunakan alat musik modern yang mahal, para remaja ini justru mengumpulkan benda-benda sederhana yang ada di sekitar mereka. Ember plastik bekas tempat cat, potongan seng tua, hingga bilah bambu disulap menjadi instrumen perkusi yang menghasilkan irama rancak dan harmonis.
Aksi ini rutin dilakukan setiap hari mulai pukul 02.30 WITA. Dengan semangat kebersamaan, mereka berjalan kaki menyusuri jalan desa sembari menabuh “alat musik” darurat tersebut.
Suara dentuman ember yang menyerupai gendang, dipadukan dengan nyaringnya suara seng dan ketukan bambu, menciptakan melodi khas yang efektif memecah keheningan malam. Para remaja ini bernyanyi dengan irama membangunkan sahur.
“Kami sengaja menggunakan barang bekas karena mudah ditemukan, barang barang ini kami dapat disekitar rumah, seperti ember dan seng supaya lebih meriah,” kata salah seorang remaja, Sahid, saat ditemui disela sela kegiatan.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari masyarakat Desa Barumbung. Kehadiran para remaja ini dianggap sangat membantu, terutama bagi ibu rumah tangga yang harus menyiapkan hidangan sahur lebih awal.
“Untuk sementara kami hanya berkeliling disekitar dusun lemogamba, karena kami tidak sempat menjangkau semua, wilayah ini juga luas,” tambah Sahid.
Selain sebagai pengingat waktu makan sahur, aktivitas ini juga dipandang sebagai upaya menjaga tradisi lokal di tengah gempuran teknologi. Alih-alih hanya mengandalkan alarm ponsel, suara tabuhan barang bekas ini dirasa lebih memiliki nilai sosial dan kehangatan khas Ramadan di Mandar.
Meskipun alat yang digunakan sangat sederhana, kekompakan dan irama yang dihasilkan mampu menciptakan suasana Ramadan yang lebih hidup dan ceria di Desa Barumbung.



