Ruang Redaksi — Sejumlah pelajar di Desa Tapua, Kecamatan Matangnga, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat terpaksa menyebrang sungai menggunakan rakit untuk pergi ke sekolah.
Sejak jembatan penghubung di tersebut , hanyut diterjang banjir pada (22/5/2025) lalu, warga setempat harus mengandalkan rakit bambu sebagai sarana penyeberangan.
Para pelajar setiap hari harus berangkat dan pulang sekolah menyeberangi sungai yang arusnya cukup deras. Melihat kejadian itu seorang Babinsa dari Kodim 1402/Polman turun langsung membantu anak-anak sekolah menyeberang menggunakan rakit bambu tersebut.
Dengan seragam lorengnya yang sudah basah hingga lutut, ia memastikan satu per satu siswa berdiri aman di atas rakit sebelum ditarik menyeberangi sungai.
Rakit bambu yang digunakan itu merupakan hasil rakitan gotong royong antara anggota Kodim 1402/Polman dan warga setempat beberapa hari setelah jembatan hanyut. Hingga saat ini, sarana sederhana itu menjadi tumpuan sehari-hari masyarakat.
Danramil 1402-02/Wonomulyo, Kapten Inf Subarkah membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya pihaknya akan terus membantu warga terutama pelajar yang akan menyebrang sungai.
“Sejak jembatannya hanyut pada bulan Mei lalu, masyarakat di Desa Tapua masih menggunakan rakit bambu sebagai alat penyeberangan. Babinsa kami tetap standby untuk membantu, terutama anak-anak sekolah yang setiap hari harus melintasi sungai,” kata Kapten Inf Subarkah, Sabtu (27/11/2025).
Ia berharap pemerintah daerah bisa segera merealisasikan pembangunan kembali jembatan tersebut, mengingat akses itu merupakan jalur vital bagi warga, anak sekolah, petani, hingga distribusi kebutuhan pokok.
Di tengah ketidaknyamanan itu, kebersamaan antara TNI dan masyarakat menjadi penopang semangat. Setiap pagi, suara tawa anak-anak bercampur derasnya aliran sungai menjadi pemandangan yang mengharukan—bahwa pendidikan tetap berjalan, meski harus menumpang rakit bambu di atas arus sungai yang tak pernah berhenti. (*)




