Ruang Redaksi – Wilayah Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, diselimuti kabut asap tebal akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dalam dua pekan terakhir. Kondisi ini membuat kualitas udara di Polman memburuk dan resmi ditetapkan masuk ke dalam kategori tidak sehat.
Berdasarkan pemantauan BMKG, lonjakan status kualitas udara ini dipicu oleh tingginya konsentrasi PM2.5 partikel debu sangat kecil di udara yang berisiko tinggi masuk ke saluran pernapasan dan memicu gangguan kesehatan.
Kabut asap dilaporkan telah mengepung hampir seluruh kawasan permukiman hingga fasilitas umum di Polman.
Dampak kabut asap yang semakin pekat mulai mengganggu aktivitas harian warga, terutama pada malam dan pagi hari ketika jarak pandang menjadi sangat terbatas.
Salah seorang warga pengendara, Anita, mengaku terkejut dengan kondisi asap yang semakin parah saat dirinya pulang bekerja.
“Biasanya kalau pagi kita lihat embun, tapi kali ini pemandangannya penuh asap. Tadi malam sewaktu saya pulang kerja asapnya sangat tebal. Kalau keluar rumah saya harus pakai masker karena mudah sesak. Asap Karhutla ini sangat mengganggu, apalagi kalau malam hari jarak pandang terbatas,” ujar Anita.
Ia dan warga lainnya berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan yang serius untuk mengatasi dampak Karhutla ini.
Menanggapi situasi ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Polman mengimbau seluruh masyarakat untuk wajib menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah guna meminimalisir risiko gangguan pernapasan.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinkes Polman, dr. Gunadil, membenarkan adanya penurunan kualitas udara dari kategori sedang menjadi tidak sehat akibat kepulan asap Karhutla, baik yang berasal dari titik api lokal maupun kiriman wilayah luar.
“Hasil pemantauan BMKG yang kami terima, telah terjadi peningkatan status kualitas udara dari kategori sedang menjadi tidak sehat berdasarkan nilai PM2.5,” jelas dr. Gunadil kepada wartawan.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Polman telah menginstruksikan seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) untuk memperketat deteksi dini terhadap potensi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Kami telah mengarahkan seluruh Puskesmas agar melaporkan grafik pasien ISPA setiap harinya, serta meningkatkan pelayanan kesehatan bagi warga yang mengeluhkan gejala batuk, pilek, dan demam,” tambahnya.
Meski kualitas udara telah dinyatakan tidak sehat, pihak Dinkes mencatat belum ada simpulan lonjakan kasus ISPA secara signifikan. Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat ketebalan kabut asap berpotensi terus bertambah jika titik api Karhutla belum berhasil dipadamkan.




