Ruang Redaksi – Perubahan nasib seringkali harus dijemput dengan keberanian melintasi pulau. Itulah yang dilakukan oleh seorang buruh tani asal Lampung Selatan bernama Ahmad Rifai yang kini mencoba merajut asa baru melalui program transmigrasi di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Setelah bertahun-tahun hidup menumpang di lahan orang lain tanpa memiliki aset pribadi, ia memutuskan memboyong istri dan kedua anaknya demi kehidupan yang lebih layak. Kini, di pedalaman Kecamatan Tutar, harapan itu mulai tumbuh setinggi batang jagung yang ia mulai tanam.
Keputusan untuk bertransmigrasi bukanlah hal yang mudah, namun kondisi ekonomi di kampung halaman memaksa pria ini untuk mengambil langkah besar.
“Di Lampung saya tidak punya lahan, hanya menumpang. Sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Saya termotivasi ikut transmigrasi karena ingin merubah hidup menjadi lebih baik,” ujarnya saat berbagi kisah.
Keberanian itu kini mulai membuahkan hasil. Setidaknya, ia tidak lagi merasa was-was karena menumpang di tanah orang. Pemerintah telah memfasilitasi tempat tinggal dan lahan pekarangan yang kini sudah disulap menjadi kebun produktif.
Sejak tiba beberapa waktu lalu, Ahmad mulai beradaptasi dengan transmigrasi lainnya yang datang dari berbagai daerah diluar Sulawesi dan transmigran lokal lainnya.
Beruntung, istri dan kedua anaknya mengaku betah dan diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat lokal.
“Alhamdulillah anak dan istri sudah mulai bersosialisasi. Masyarakat di sini sangat baik menerima kehadiran kami,” ungkapnya.
Di atas lahan seluas kurang lebih satu hektar (termasuk pekarangan), ia bergerak cepat. Meski pembagian lahan perkebunan luas belum sepenuhnya rampung, lahan di sekitar rumah sudah hijau oleh tanaman jagung dan sayuran jangka pendek untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Fasilitas dasar pun mulai terpenuhi. Listrik bertenaga surya kini menerangi rumahnya dengan tiga titik lampu dan fasilitas pengisian daya ponsel yang stabil. Begitu pula dengan pasokan air bersih yang mengalir lancar setiap hari.
Meski demikian, Dibalik suburnya tanah sulawesi ini, terselip kekhawatiran orang tua terhadap pendidikan anak. Akses menuju sekolah masih menjadi kendala fisik yang nyata.
“Sekolah anak-anak cukup jauh. Kalau hujan jalanan menjadi licin. Bahkan, kami harus menyeberang sungai. Kalau kondisi air tidak memungkinkan, anak-anak terpaksa libur sekolah,” jelasnya.
Besar harapannya agar pemerintah setempat segera merealisasikan janji pembangunan infrastruktur. Pembangunan jembatan penyebrangan dan pengecoran jalan permanen menjadi prioritas yang sangat dinantikan warga transmigrasi agar mobilitas, terutama untuk pendidikan anak-anak, tidak lagi terhambat cuaca.
Meski dibayangi kendala infrastruktur, ia tetap optimis. Melihat tanaman yang tumbuh subur dan dukungan dari sesama rekan transmigran, ia yakin pilihannya sudah tepat.
“Tanahnya di sini bagus sekali, tanaman tumbuh subur. Melihat itu, saya semakin termotivasi. Kalau mau hidup lebih baik dari yang dulu, memang harus berani berjuang di sini,” pungkasnya penuh harap.




