Ruang Redaksi – Sebuah bangunan ikonik berdiri megah di tengah pemukiman warga Dusun Kebun Dalam, Desa Bumi Ayu, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Bukan gedung biasa, bangunan ini merupakan Masjid Sultan Auliya Syekh Abdul Qodir Jailani yang arsitekturnya dirancang menyerupai Kakbah, kiblat suci umat Muslim di seluruh dunia.
Masjid ini bukan sekadar replika, melainkan wujud nyata kerinduan para alumni pesantren setempat untuk menghadirkan nuansa spiritual Makkah ke tanah Mandar.
Berdiri di atas lahan wakaf seluas 15 x 24 meter, masjid ini memiliki dimensi bangunan 7 x 10 meter. Pemilihan angka tersebut bukanlah kebetulan melainkan luas 7×10 meter persegi tersebut merupakan simbol dari 17 rakaat shalat fardu dalam sehari semalam.
“Kami kuatkan ukuran 7×10 meter sebagai simbol keistiqomahan dalam shalat berjamaah, sesuai jumlah 17 rakaat dalam lima waktu,” Muhammad Mahrus Ali, penanggung jawab pembangunan Masjid saat ditemui Kamis (26/2/2026).
Dari sisi luar, kemiripan dengan Kakbah terlihat sangat kontras. Dinding masjid dibalut cat hitam pekat menyerupai kain kiswah, lengkap dengan ornamen kaligrafi yang elegan. Di bagian depan, sebuah replika pintu Kakbah berwarna emas terpasang kokoh, memberikan kesan seolah sedang berada di depan Baitullah.
Sementara dibagian bagian dalam, suasana berubah menjadi hangat dan modern, Dinding dan plafon menggunakan bahan PVC yang memberikan kesan bersih dan rapi. Paduan warna cokelat dan putih mendominasi interior, melambangkan keseimbangan antara aspek duniawi (tanah) dan ukhrawi (kesucian).
Di setiap sudut ruangan, pendar lampu ditata sedemikian rupa untuk menonjolkan kesan mewah namun tetap menenangkan bagi jamaah.
Pembangunan masjid ini lahir dari obrolan santai para alumni pesantren saat berkumpul. Mereka merasa resah dengan tantangan generasi muda dalam menjaga semangat belajar mengaji.
“Awal mulanya dari teman-teman alumni pesantren kumpul, ceritanya sambil ngopi. Kami berdiskusi bagaimana agar anak-anak generasi muda tetap mau belajar mengaji. Kami ingin ada tempat yang setiap kali orang lewat, mereka langsung teringat pada agama,” kenang Mahrus.
Berkat gotong royong dan swadaya alumni serta masyarakat, masjid yang mulai dibangun pada akhir 2023 ini kini telah mencapai progres fisik sekitar 80%. Meski replika Hajar Aswad direncanakan baru akan terpasang tahun depan, interior masjid sudah rampung 90% dan mulai difungsikan sejak pertengahan 2024.
Masjid Sultan Auliya Syekh Abdul Qodir Jailani sudah sangat hidup dengan aktivitas ibadah. Selain shalat berjamaah, setiap malam setelah Maghrib, masjid ini dipadati anak-anak usia SD dan SMP yang mengikuti pesantren kilat.
Kedepan, pengelola berencana memasang kaligrafi secara melingkar di sisi selatan bangunan setelah proses pemlesteran selesai, guna menyempurnakan keindahan masjid yang kini menjadi kebanggaan warga Wonomulyo tersebut.




