Oleh: Mutmainnah Basri (Pengurus SAPMA PP POLMAN)

Scroll Untuk Lanjut Membaca

 

Ruang Redaksi – Enam puluh enam tahun bukanlah sekadar deretan angka administratif bagi Polewali Mandar. Ia adalah rekam jejak panjang tentang identitas, pergulatan sejarah, dan akumulasi harapan kolektif masyarakatnya.

Namun, merayakan hari jadi di tengah disrupsi zaman menuntut kita untuk sejenak berhenti dari seremoni dan mulai melakukan otokritik: Apakah Polewali Mandar sekadar bertambah tua, atau benar-benar tumbuh dewasa?

Polewali Mandar adalah daerah yang diberkati. Dari bentangan pesisir yang kaya hingga pegunungan yang subur, daerah ini memiliki modal alam yang melimpah. Lebih dari itu, falsafah hidup masyarakat Mandar yang religius dan tangguh merupakan modal sosial yang tak ternilai.

Namun, kejujuran intelektual memaksa kita melihat fakta yang masih membayang. Di balik narasi kemajuan, kita masih dihadapkan pada persoalan klasik yang belum tuntas, kemiskinan struktural di kantong-kantong pedesaan, ketimpangan akses pembangunan antarwilayah, hingga isu kualitas layanan kesehatan dan pendidikan yang belum merata.

Kekayaan laut dan darat kita belum sepenuhnya terkonversi menjadi kesejahteraan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat akar rumput.

Diera transformasi digital ini, Polewali Mandar tidak bisa lagi hanya bertumpu pada romantisme kebanggaan masa lalu. Pembangunan fisik memang penting, namun ia kehilangan jiwa jika tidak dibarengi dengan proses memanusiakan manusia.

Tantangan ke depan adalah bagaimana menciptakan kebijakan berbasis data (data-driven policy) yang tetap sensitif terhadap kearifan lokal. Kita membutuhkan lompatan kebijakan yang mampu memperkuat daya saing generasi muda tanpa membuat mereka tercerabut dari akar budayanya. Pembangunan harus bermuara pada pembukaan akses dan perluasan kesempatan kerja bagi warga lokal agar mereka tidak menjadi penonton di rumah sendiri.

Momentum ulang tahun ke-66 ini juga merupakan cermin bagi etika kepemimpinan dan kualitas demokrasi warga. Pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan responsif bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan.

Di sisi lain, masyarakat tidak boleh pasif. Partisipasi warga yang kritis dan terlibat aktif adalah “darah” bagi pembangunan. Tanpa kolaborasi yang sehat antara pemerintah dan warga, kebijakan publik berisiko kehilangan arah, terjebak dalam kepentingan elitis, dan kehilangan makna substansialnya.

Menjadikan Polewali Mandar sebagai ruang hidup yang adil, berdaya, dan berkelanjutan adalah tugas sejarah kita semua. Kita tentu tidak ingin melihat daerah ini hanya menua dalam usia, namun rapuh dalam fondasi.

Peringatan hari jadi tahun ini harus menjadi titik tolak pembaruan komitmen. Polewali Mandar harus membuktikan diri mampu mengelola potensi dan perbedaan menjadi kekuatan transformatif. Harapannya satu, menjadikan hari esok lebih baik dari hari ini, demi mewariskan daerah yang lebih tangguh bagi generasi mendatang.