Webinar For-JAK : Pentingnya Membangun Networking di Perantauan

0
618
Webinar For-JAK bertajuk Kepak Sayap di Tanah Rantau

Ruangredaksi.com, Jakarta – Untuk mencapai kesuksesan bagi masyarakat Aceh di perantauan, penting rasanya untuk membangun networking atau jaringan, sehingga bisa saling mendukung satu sama lain. Dengan adanya jaringan yang luas, maka akan memudahkan mengembangkan karir atau usaha.

“Nerwoking adalah kata kunci, itu bisa membantu kita di perantauan,” kata Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Nezar Patria, dalam Webinar bertajuk ‘Kepak Sayap di Tanah Rantau’ yang diselenggarakan oleh Forum Jurnalis Aceh Jakarta (For-JAK), Sabtu 12 September 2020 malam.

Nezar mengatakan, menukar informasi sangatlah penting, apalagi didukung dengan adanya komunitas-komunitas masyarakat Aceh di perantauan. “Intinya harus mau belajar yang kuat dan kita juga harus menjaga koneksi kita atau jaringan dengan semua kalangan, karena sangat penting menjaga hubungan dengan sesama daerah,” kata Dewan Pembina For-JAK ini.

Namun yang paling penting bagi perantau adalah harus ada sikap rendah hati sehinggu mudah diterima di lingkungannya. Kemudian, diperlukan kemampuan beradaptasi, kreatifitas, berpikir positif, dan jangan gampang menyerah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan, proses pengembangan diri juga penting untuk mencapai sebuah kesuksesan di perantauan. “Kemudian kita juga harus siap bersaing dengan siapa pun. Jangan mudah menyerah. Siapa pun yang merantau harus mempunyai keyakinan yang kuat,” kata putra Aceh yang pernah menjadi Duta Besar RI untuk Kanada ini.

Presiden Aceh Business Club (ABC) Sabri Aly mengatakan, perantau sangat penting membangun jaringan, apalagi jika ia seorang pebisnis. Tanpa jaringan dan mitra, akan sulit mengembangkan usaha.

Pengusaha asal Montasik, Aceh Besar ini menambahkan, mencapai kesuksesan butuh perjuangan. Karena memulai bisnis atau usaha butuh proses dan jatuh bangun. Mulailah dari yang kecil, kemudian terus mengembangkannya hingga berhasil.

“Saya berharap bagi yang di perantauan janganlah berputus asa. Saya kira yang dibutuhkan semangat perjuangan, seperti yang dilakukan nenek moyang kita dulu,” kata Sabri yang pernah bekerja sebagai loper koran hingga sukses jadi pengusaha berbagai unit usaha di Jakarta.

Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) Almuniza Kamal S.STP, M.Si mengatakan, BPPA sebagai perwakilan Pemerintah Aceh yang menghubungkan Aceh dengan Jakarta dan daerah lainnya, sangat mendukung warga Aceh yang berkarir atau menuntut ilmu di luar daerah, terutama Jakarta.

“Keberadaan badan penghubung, adalah menghubungkan, dan mengeksekusi, kegiatan-kegiatan sosial seperti melakukan fardhu kifayah dengan memulangkan jenazah masyarakat Aceh kurang mampu yang meninggal di Jabodetabek,” kata Almuniza dalam diskusi yang dipandu Lisa Oktaviani, jurnalis MNC Media.

Kemudian kata Almuniza, bagi masyarakat Aceh yang kurang mampu berobat ke Jakarta, pihaknya juga memberikan fasilitasi tempat tinggal di Rumah Singgah, serta ambulans.

“Selain itu kita juga memperkenalkan budaya Aceh. Seperti tahun lalu kita menyandingkan kebudayaan Aceh dengan Sunda, dandan lainnya. Kemudian juga tradisi kuliner dan tari yang kita kembangkan,” katanya.

BPPA juga saat ini kata Almuniza, sedang mendata masyarakat Aceh di Jabodetabek. Pendataan itu dilakukan melalui website yang dibangun oleh tim IT BPPA. “Kami dalam hal ini melakukan kerjasama dengan komunitas Taman Iskandar Muda (TIM). Dan banyak hal yang kita lakukan,” katanya.

Sebelumnya Ketua For-JAK, Salman Mardira mengatakan, diskusi online ini bagian dari misi Fo-JAK, yakni membangun budaya diskusi dan penyampaian gagasan serta aspirasi.

“Kami sengaja memilih isu ini sebagai tema diskusi karena menurut kami ini sangat penting, karena membangun dan mengembangkan jaringan salah satu kunci sukses di perantauan. Orang jika merantau tapi gagal membangun jaringan, maka akan sulit mengembangkan diri dan meraih kesuksesan.” [Ril]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here