Syekh Ali Jaber : ‘Kasihan dia,’ Jamaah berteriak : “Kami kasihan Syekh”

0
326
Istimewa

Ruangredaksi.com, Jakarta – Pelaku penusukan Syekh Ali Jaber pada Ahad, 13 September 2020 di Lampung diselamatkan oleh korbannya sendiri. Hal ini diungkapkan Syekh Ali Jaber saat menjadi tamu di podcast Deddy Corbuzier yang tayang di kanal Youtubenya, Rabu siang, 16 September 2020.

“Saya lihat pelaku dihakimi, saya langsung berdiri dan berteriak jangan, saya bilang, ‘kasihan dia,’ jamaah berteriak,’ kami kasihan Syekh,’ tapi saya minta dia diamankan, jangan dihajar sampai petugas keamanan datang,” katanya.

Syekh Ali Jaber ditusuk pria bernama Alpin Andria saat tengah berdakwah di Lampung. Saat itu, ia tengah menghadiri wisuda hafalan Al Quran. Secara tiba-tiba, Alpin berlari ke atas panggung dan hendak menghunjamkan pisau ke lehernya. Dalam hitungan detik, ulama asal Madinah, Arab Saudi itu dengan cepat bergerak sehingga pisau itu hanya menghunjam lengannya.

Semula, Syekh Ali Jaber mengira pria yang berlari ke atas panggung itu hendak meminjam ponsel kepada dirinya untuk membuat vlog bersama anak yang diwisuda dan ibunya. Sebab sebelumnya, ia menantang wisudawan untuk naik ke atas mimbar untuk menyimak hafalan Al Quran dan cara membacanya.

“Waktu itu, saya mau buat vlog memakai ponsel ibu wisudawan itu dan mengatakan, ‘Selamat ibu dan anaknya mendapat hadiah umrah,’ tapi memori ponselnya penuh makanya saya bilang ke jamaah untuk pinjam hpnya,” tutur Syekh Ali Jaber.

Bahkan saat diserang, ia belum tersadar. Pisau itu sebagian patah, sebagian masih tertancap di lengannya. “Saya lihat reaksi jamaah lambat karena mereka kaget. Pas saya berdiri, jamaah mulai tahan dia, saya lihat kok ada pisau, baru terasa sakit, kayak film kartun. Saya lepas pisaunya. Awalnya sakit karena agak dalam. Jadi yang mencopot pisau yang patah ya saya sendiri,” kata dia.

Meski mendapatkan serangan, Syekh Ali Jaber masih merasa untung. “Untung saya pakai jubah hitam, belasan tahun saya sudah lama enggak pakai jubah hitam, selalu putih, kalau warna putih bisa stres jamaah yang rata-rata anak-anak itu karena hitam saja baju sudah basah semua,” katanya.

Ia lalu mengamalkan apa yang dipelajarinya. Saat pertama kali mengalami musibah, hal yang harus dilakukan adalah memuji Tuhan. “Saya mengucap alhamdulillah, baru innalillah, karena ujian manusia datang saat dia mengalami musibah, apakah dia masih ingat untuk memuji Tuhan,” ujarnya.

Deddy Corbuzier kemudian menanyakan apa tanggapan saat orang-orang menyamakan serangan terhadap dirinya sebagai ulama ini serupa dengan kejadian sewaktu Paus Paulus Yohannes II ditembak. Saat itu, Paus justru meminta jemaatnya untuk memaafkan pelaku.

Syekh Ali Jaber yang menjadi WNI sejak 2012 ini mengaku tidak dendam terhadap Alpin. Ia justru mengaku merasa tenang dan adem. “Tidak ada merasa gelisah, waswas, justru saya pikirkan untuk selamatkan dia, benar, enggak ada merasa marah, Jujur saja, saya merasa Allah memberikan ketenangan kepada saya,” katanya.

Ia justru merasa kasihan terhadap Alpin. Saat massa menghajar Alpin dan coba ia leraikan, Syekh Ali Jaber berucap, “Dia memang salah, tapi memang bukan begitu caranya. Dia tetap manusia, mohon diamankan sampai datang kepolisian. Bahkan waktu diamankan ada jemaah yang kesal, mau ditarik kakinya. Saya cegah dan bilang, ‘Eh ini manusia bukan sampah.'” kata dia.

Ia pun meminta agar kasusnya ini tidak dikaitkan dengan gerakan apapun. “Tolong ini adalah kasus saya pribadi, karena enggak ada yang terjadi secara kebetulan, semua atas izin Allah, saya harus belajar berbaik sangka.”

Gus Miftah yang menyertai kedatangan Syekh Ali Jaber saat di program Close The Door Deddy Corbuzier ini mengakui tidak ada kemarahan di hati ulama yang kerap menjadi koki untuk memasak nasi Arab tersebut. “Tingkat keimanannya beda sama kita, Ded,” ucap Gus Miftah meledek Deddy.

Terungkap, Ini Alasan Alfin Tusuk Syekh Ali Jaber

Terungkap Motif Alfin Andrian menikam atau menusuk Syekh Ali Jaber yang sedang memberikan tausiah, Minggu (13/9) lalu di Lampung. Pemuda 24 tahun itu mengaku nekat menusuk Syeh Ali JAber lantaran selalu terbayang dan terbebani dengan tayangan ceramah Syeh Ali Jaber di televisi.

Melansir pojoksatu, Hal tersebut diungkapkan Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, Selasa (15/9). “Itu motifnya,” ujarnya kepada wartawan.

Terkait pengakuan orangtua Alfin yang bersikukuh, bahwa Alfin mengidap gangguan kejiwaan, tak sepenuhnya dipercaya oleh penyidik. Sebab, pernyataan bapaknya itu, dibutuhkan pemeriksaan kejiwaan lebih lanjut oleh dokter kejiwaan. “Itu harus dilakukan pembuktian,” ungkap Pandra.

 

Untuk membuktikan bahwa Alfin mengalami gangguan jiwa, pihaknya akan menghadirkan saksi ahli dari Rumah Sakit Jiwa Lampung dan tim dokter dari Mabes Polri. “Kita on the track. Saksi ahli akan dihadirkan. Hasilnya menunggu 14 hari,” jelasnya.

Sambil nunggu kepastian tim dokter, kata Pandra, pihaknya tetap akan melanjutkan proses pidana terhadap Alfin Andrian. “Secara pidana, tetap harus dipertangungjawabkan,” tegasnya.

Dalam gelar perkara, sambung Pandra, penyidik akhirnya menjerat Alfin Andrian dengan pasal berlapis. Ditambah dengan pemeriksaan terhadap tersangka, saksi korban dan sejumlah saksi lain di lokasi kejadian. “Dengan pemeriksaan tersebut, tersangka patut diduga melakukan penusukan dengan ancaman hukuman kurungan penjara lebih dari lima tahun,” ujar Pandra.

Alfin diduga melanggar Pasal 340 juncto Pasal 53 KUHP subsider Pasal 338 juncto 351 subsider Pasal 351 ayat 2 juncto Pasal 53 KUHP. Ia juga dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

Pandra menjelaskan, penerapan pasal berlapis itu agar pelaku bisa mempertanggungjawabkan di muka hukum. “Pasal berlapis diterapkan agar tidak ada lagi celah terhadap tersangka. Itu yang dilakukan,” tegas Pandra.

Pandra menambahkan, saat ini tersangka dalam keadaan sehat dan dilakukan penahanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di muka hukum. Penyidik sampai saat ini tengah bekerja cepat untuk menyelesaikan berkas perkara agar segera selesai dan dapat dipertanggungjawabkan oleh pelaku secara hukum. ”Kami usahakan agar cepat selesai dan pelaku dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tutur Pandra.

“Mulai saat itu dilakukan penahanan oleh penyidik Satreskrim Polresta Bandarlampung,” sambungnya. Pandra juga memastikan, proses pidana terhadap Alfin Andrian tetap berlanjut dan harus dipertanggungjawabkan oleh tersangka.

“Unsurnya sudah terpenuhi. Adanya niat, kesempatan, suatu tindakan yang mengakibatkan orang mengalami luka dan dapat mengancam jiwanya,” urai Pandra.

Lebih lanjut Pandra mengatakan, seluruh unsur kepolisian akan dilibatkan dalam penanganan kasus tersebut. “Semua unsur kepolisian pasti akan dilibatkan,” tandasnya. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here