#ResolusiBumi 2016 Untuk Hutan Indonesia

0
36
Salah satu sudut hutan dikawasan Lamno, Aceh Jaya. (Azhar /WWF Indonesia)
Area hutan dikawasan Lamno, Aceh Jaya. (Azhar /WWF Indonesia)

Pernahkah Sobat mengeluhkan udara yang beberapa tahun terakhir terasa sangat panas, terutama di musim kemarau? Kondisi bumi saat ini memang sudah jauh berbeda. Perubahan iklim yang drastis telah membuat panas bumi meningkat. Bahkan Juli 2015 dinyatakan sebagai bulan terpanas bumi dalam catatan sejarah oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA).

Kondisi iklim seperti yang terjadi saat ini memang tidak terhindarkan. Tahun demi tahun, gas rumah kaca yang dihasilkan kegiatan manusia terus meningkat, sementara hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyeimbang alam lenyap dalam skala besar-besaran setiap tahunnya. Sejak 2009 hingga 2013, hutan Indonesia yang hilang luasnya mencapai 4,6 juta hektar, sama dengan luas Provinsi Sumatera Barat. Bahkan dalam 10 tahun ke depan, Forest Watch Indonesia memprediksi hutan di Riau akan hilang, diikuti dengan Kalimantan Tengah dan Jambi. Mengerikan bukan? Tanpa adanya hutan yang dapat menyerap karbondioksida, yang merupakan gas rumah kaca terbanyak kedua di atmosfer, akan sepanas dan sekering apa musim kemarau di masa mendatang?

Menanam Pohon

Banyak jalan yang dapat ditempuh masyarakat untuk menambah jumlah pohon baik di lingkungan tempat tinggal, tempat bekerja hingga area hutan yang rusak di Indonesia. Tidak perlu menunggu campur tangan pemerintah karena menanam pohon bisa dilakukan secara mandiri, baik perorangan maupun komunitas atau melalui program WWF Indonesia yang bernama NEWtrees dan MyBabyTree, di mana NEWtrees ditujukan bagi korporasi dan MyBabyTree diperuntukan bagi perorangan. Melalui kedua program ini, masyarakat dapat menghijaukan lahan-lahan gundul di wilayah hutan yang dapat menahan, menampung dan mengalirkan air hujan. Contohnya area hutan Gunung Tikukur di Puncak, Jawa Barat dan Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Selain dapat menyerap karbon selama pertumbuhannya, pohon-pohon ini akan menampung cadangan air yang dibutuhkan masyarakat saat musim kemarau tiba.

Berhemat Kertas

Setiap tahun sebanyak 3,2 juta kayu diambil dari hutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kertas. Seringkali kuota yang besar ini tidak tercukupi oleh hutan tanaman industri (HTI) yang persediaan pohonnya terbatas, sementara pohon yang baru ditanam memerlukan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh besar. Untuk memenuhi kuota, industri pun tidak segan menebang pohon secara liar di area hutan yang bukan HTI, yang sebetulnya merupakan area konservasi. Masyarakat dapat menahan industri melakukan kerusakan besar terhadap hutan setiap tahun, dengan menurunkan jumlah permintaan kertas, yang hanya dapat dicapai dengan cara berhemat kertas. Maksimalkan penggunaan kertas dengan berbagai cara kreatif seperti menggunakan kedua sisi kertas dan daur ulang. Dengan berhemat kertas, masyarakat akan membantu hutan terus lestari dan menyelamatkan generasi masa depan dari hidup yang berkesusahan karena iklim yang ekstrim dan kekurangan sumber daya alam.

Menyambut tahun 2016, ada baiknya jika masyarakat mulai merefleksikan pentingnya bertindak nyata untuk menyelamatkan hutan yang masih tersisa.

WWF Indonesia mengajak Sobat membuat hutan di Indonesia tetap lestari sebagai resolusi di tahun 2016. [WWF Indonesia]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here