Pelaku Usaha Sambut Baik Aceh Zona Hijau Covid-19

0
236
Herizal, Kepal Cabang PT Astra Daihatsu Banda Aceh (Ist)

Ruangredaksi.com, Banda Aceh – Dunia usaha di Aceh menyambut baik penetapan Aceh sebagai zona hijau wabah virus Corona, Covid-19, sehingga menuju Aceh New Normal.

Tetapi, dua lembaga keuangan yang terkait langsung dengan dunia usaha harus kembali normal dan melonggarkan kebijakan yang selama ini sangat ketat. Salah satunya,  pelaku usaha otomotif di Aceh, Herizal SE, Kepala Cabang PT Astra Daihatsu Banda Aceh kepada Serambinews.com, Rabu (27/5/2020).

“Kami sangat menyambut baik penetapan Aceh sebagai zona hijau Covid-19,” ujarnya.

Dirinya mengatakan mudah-mudahan wabah virus Corona tidak merebak ke Aceh, sehingga kehidupan sosial dan ekonomi dapat berjalan normal “Ini merupakan harapan semua masyarakat Aceh, sehingga pereknomian kembali berdenyut lagi,” tambahnya.

Meski begitu, herizal mengakui selama wabah Covid-19 ini,  pesanan mobil turun sampai 20 persen, akibat pola pembelian secara kredit ada kendala. “Bukan orang tdak mau beli mobil, tetapi terkendala di lembaga pembiayaan yang menetapkan DP atau uang muka tinggi,” ungkapnya.

Dia menjelaskan pihak pembiayaan menetapkan DP minimal antara 30 sampai 35 persen, sehingga memberatkan calon konsumen. Herizal mengakui DP tinggi akan meringankan pembayaran cicilan bulanan, tetapi itu-itu lagi, calon konsumen tidak memiliki dana besar sebagai uang muka.

Apalagi, katanya, pembelian mobil didominasi kredit sampai 90 persen dengan DP antara 20 sampai 25 persen. “Makanya, kami sangat berpengaruh dengtan DP di lembaga pembiayaan,” ujarnya.

Dia berharap dengan ditetapkan Aceh sebagai Daerah Zona Hijau, maka lembaga pembiayaan harus kembali memberikan DP kecil. “Saya pribadi sangat yakin Aceh bisa mempertahankan Zona Hijau apabila ada kerjasama dan sinergi pemerintah dan masyarakat,” tambahnya.

Terutama, tetap menjaga protokol Kesehatan, baik physical distancing maupun social distancing, memakai masker, rajin cuci tangan dengan sabun.

Tetapi, yang paling penting tetap waspada dan tidak pernah anggap remeh pandemi yang mematikan itu.

Sementara itu, Asosiasi Pengembang Perumahan Dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Aceh juga  menyambut baik penetapan zona hijau virus Corona untuk Aceh.

Ketua Apersi Aceh, Afwal Winardy ST MT (Ist)

Ketua Apersi Aceh, Afwal Winardy kepada Serambinews.com, Rabu (27/5/2020) mengatakan Ketua Gugus Covid-19 Aceh merupakan pakar mikrobiologi. Juga sebagai ketua dokter spesialis mikrobilogis klinik Indonesia Aceh bahwa Aceh telah ditetapkan oleh pusat sebagai Zona Hijau Covid-19 pada 26Mei 2020.

Dia  mengatakan dengan zona itu, masyarakat Aceh sudah bisa melaksanakan aktivitas seperti biasa. Tetapi, harus tetap memperhatikan aturan atau ketentuan pencegahan Covid-19. Apalagi, katanya, secara nasional, Presiden RI, Jokowi mengatakan mulai Juni 2020 akan diberlakukan New Normal.

“Kami sangat berharap kepada pemerintah daerah ketegasan untuk dunia konstruksi,” ujarnya.

“Apalagi kami para pengusaha properti yang melakukan pembangunan perumahan,” tambahnya.

Dia berharap perbankkan tidak memperketat aturan, khususnya bagi pekerja informal untuk memiliki rumah bersubsidi pemerintah.

Afwal mengatakan pemerintah harus bisa memastikan terjaganya daya beli masyarakat terutama masyarakat lapisan bawah.

Dia mengatakan pihaknya pernah menyampaikan permohonan kepada Gugus Covid-19 Provinsi Aceh.

Hal itu melalui surat nomor 604/DPD-AP/III/2020 tanggal 30 Maret 2020. Adapun dasar pertimbangan, agar tetap mempekerjakan tukang bangunan seusai standar operasional prosedur (SOP) selama siaga wabah virus Corona ini.

Ada petugas kesehatan yang memeriksa suhu tubuh pekerja dua kali dalam sehari, pada pagi dan sore hari. Kemudian, memastikan menggunakan hand sanitizer atau mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan.

Pekerja di lapangan menggunakan masker dan tidak melakukan kontak fisik dengan masyarakat di lokasi kerja.

Setiap pekerja bangunan menjaga kebersihan pribadi dan ruang kerja/gudang material dan tempat tinggal pekerja serta menerapkan pola hidup sehat.

Melakukan penyemprotan disinfektan ke seluruh ruang kerja/gudang material dan tempat tinggal pekerja.

Sesuai anjuran pemerintah untuk melakukan social distancing pada jam istirahat dan shalat.

Melaporkan jumlah tukang kepada aparat desa di lokasi perumahan.

Jika jumlah pekerja banyak yaitu 40 sampai 50 orang, wajib mendatangkan petugas kesehatan untuk memeriksakan kesehatan.

Hal itu untuk memudahkan pengawasan sewaktu-waktu ada indikasi sakit dan lain-lainnya.[serambinews.com]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here