KSLH Aceh Gandeng Bale Juroeng Terkait Pembuatan Qanun Perlindungan Burung dan Habitatnya

0
233
Para peserta saat mengikuti Forum Discusion Group Pembuatan Qanun Perlindungan Burung (Fb Teuku Abhie)

Ruangredaksi.com, Langsa – Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh menggandeng LSM Bale Juroeng Langsa, Senin (29/06/2020) menggelar diskusi terfokus Pembuatan Qanun Perlindungan Burung dan Habitatnya, di Hanim Cafe Langsa.

Selain itu juga hadir dari Pemko Langsa Asisten I, Suyetno AP MSp, perwakilan KPH Wilayah III Aceh, Forum Komunikasi Sub Das Krueng Langsa (FKSDL), LSM Geusaba, sejumlah keuchik daerah pesisir tempat persinggahan burung migrasi.

Asisten I Pemko Langsa, Suyetno AP MSp, mengatakan, penyusunan qanun ini  merupakan inisiasi yang sangat baik dari Gampong Cinta Raja yang bekerjasama dengan lingkungan hidup KSLH, LSM Bale Juroeng, Geusaba, dan lainnya.

Karena keberadaan burung air (burung migran) yang ada di kawadan pesisir Langsa ini, merupakan hal yang langka dan belum tentu ada di pesisir wilayah Indonesia lainnya.

Ini membuktikan bahwa masyarakat gampong dan pemerhati lingkungan hidup sangat memperhatikan kehadiran tamu burung migran asal luar negeri ini. Bahkan secara nasional, banyak jenis burung-burung itu terancam punah. Sehingga kehadiran burung migrasi ini wajib dilindungi dan diberikan kenyamanan di daerah persinggahannya.

Bahkan kehadiran burung migrasi ini, memberikan manfaat pada aspek pendidikan contohnya bisa dimanfaatkan untuk penelitian yang telah dilakukan mahasiswa sejumlah kampus di Aceh dan lembaga-lembaga lingkungan hidup lainnya di Sumut.

Lalu, di aspek kebudayaan mengubah kebiasaan petani tambak dalam beraktivitas  iasanya memanen udang dan ikan siang atau soer, sekarang dilakukan malam harinya, dan lain sebagainya.

Aspek ekonomi, daerah pesisir persinggahan burung migrasi ini bisa memberikan peluang bagi masyarakat setempat, karena daerah ini akan menjadi kawasan wisata yang dikunjungi untuk mengamati burung-burung migrasi tersebut.

“Pada intinya Pemko Langsa akan mendukung penuh segera dibentuk dan disahkan Qanun Perlindungan Burung dan Habitatnya, dalam rangka pelestarian burung migrasi di daerah pesisir ini,” ungkapnya.

Direktur Bale Juroeng, Iskandar Haka SE, menyampaikan, hingga saat ini di Provinsi Aceh belum ada terbentuk Qanun Perlindungan Burung dan Habitatnya, sehingga forum ini penting dilakukan sebagai cikal bakal pembentukan qanun tersebut.

Di daerah Langsa, jelas Iskandar, selama ini setiap tahun antara bulan Maret – Agustus puluhan ribu burung migran singgah dan mencari makan di kawasan pesisir Timur Aceh. Khususnya di daerah pesisir Gampong Cinta Raja, Gampong Sungai Lueng, Gampong Kapa, di Kecamatan Langsa Timur, dan Gampong Sungai Paoh Tanjung, Kecamatan Langsa Barat.

“Di Kota Langsa 4 gampong ini menjadi lokasi persinggahan burung migran ini, hingga 6 bulan lamanya burung ini berada di sini mencari makan bahkan beranak pinak,” jelasnya.

Iskandar menambahkan, dari hasil penelitian bersama Bale Juroeng dan pengamat burung nasional, tercatat sekitar 34 jenis migrasi asal benua Asia, Eropa, dan Australia.  “Secara presentasinya, 34 jenis burung ini telah memenuhi kawasan tersebut menjadi wilayah konservasi burung,” katanya.

Selama ini, pihaknya terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat di daerah pesisir lokasi persinggahan burung migran, agar tidak mengganggu kehadiran burung asal luar negeri ini.

Sehingga selama ini pula, khususnya di bulan Maret – Agustus daerah pesisir itu didatangi puluhan ribu burung migrasi yang datang daerah benua Asia, Eropa, dan Australia.

Burung migrasi akan kembali ke daerahnya memasuki musim dingin (salju), dan akan kembali bermigrasi ke pesisir Timur Aceh ini memasuki musim panas.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here