Jalan Panjang dan Berliku Hagia Sophia

0
520
Sumber : https://sites.google.com/site/adairarthistory/iii-early-europe-and-colonial-americas/52-hagia-sophia

Ruangredaksi.com, Istanbul –  Salah satu situs warisan dunia, Hagia Sophia, di Istanbul kembali diperbincangkan setelah Presiden TurkiRecep Tayyip Erdogan, mengembalikan fungsi bangunan bersejarah itu dari museum menjadi masjid.

Upaya untuk mengubah fungsi Hagia Sophia sebagai masjid sebenarnya sudah muncul sejak 2010. Namun, di era kepemimpinan Erdogan, upaya perubahan fungsi bangunan era Kekaisaran Byzantium ini semakin gencar dilakukan.

Endorgan berhasil mengembalikan status Hagia Sohia menjadi Masjid pada pekan lalu setelah pengadilan negara membatalkan keputusan presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk, pada 1935. Keputusan itu menjadi dasar pemerintahan Ataturk yang beraliran nasionalis sekuler mengubah bangunan Hagia Sophia yang semula merupakan masjid di era Kesultanan Ottoman menjadi museum.

Direktur Sekolah Kajian Strategis dan Global Universitas Indonesia, M Sya’roni Rofii, mengatakan menjadikan Hagia Sophia kembali sebagai masjid merupakan ambisi terpendam kaum Islam konservatif Turki, termasuk Erdogan yang merupakan lulusan “pesantren” Imam Hatip High School.

Dalam banyak kesempatan, Erdogan kerap memuja kekaisaran Ottoman Turki sebagai era kejayaan Turki. Selama periode itu Islam memang begitu kuat dan disegani.

Erdogan disebut kerap mengkritik kebijakan peninggalan pendahulunya, Kemal Ataturk, karena dinilai berupaya mempengaruhi Turki dengan nilai-nilai asing melalui pemerintahan yang sekuler.

Dia (Erdogan) pernah mengatakan bahwa semasa muda dia bermimpi jika kelak menjadi seorang pemimpin, ia akan mengubah Hagia Sophia sebagai masjid lagi. Jadi, langkah ini bisa dibilang merealisasikan mimpinya (Erdogan) dan kaum Islam konservatif,” kata Sya’roni kepada CNNIndonesia.com pada Rabu (15/7).

(AP Photo/ Emrahj Gurel)

Melansir New York Times, Erdogan bahkan disebut sangat kegirangan hingga tidak bisa tidur setelah pengadilan negara menyetujui keputusannya mengubah Hagia Sophia sebagai masjid lagi.

Erdogan menganggap keputusan pengadilan soal Hagia Sophia pada pekan lalu menandai era sekuler telah berakhir. Sya’roni menuturkan perubahan status Hagia Sophia sebagai masjid juga bisa dilihat sebagai kekalahan kaum sekuler Turki.

Kelompok sekuler Turki, kata Sya’roni, menjadi pihak yang sangat menyayangkan keputusan Erdogan ini. Menurut kaum sekuler, penetapan Hagia Sophia sebagai museum merupakan langkah paling tepat dan netral lantaran bangunan bersejarah itu pernah menjadi tempat beribadah umat Islam dan Kristen.

“Tentu saja keberadaan Hagia Sophia sekarang ini sebagai masjid bisa disebut kekalahan kaum sekuler Turki. Padahal, Hagia Sophia sebagai museum merupakan nilai plus bagi Turki karena bisa menjadi simbol perdamaian dan toleransi,” ujar Sya’roni.

Sejarah Hagia Sophia: Dari Gereja, Masjid, hingga Museum

Dilansir dari History.com, Hagia Sophia (Ayasofya dalam bahasa Turki) pada awalnya dibangun sebagai basilika bagi Gereja Kristen Ortodoks Yunani. Namun, fungsinya telah berubah beberapa kali sejak berabad-abad.

Kaisar Bizantium Constantius menugaskan pembangunan Hagia Sophia pertama pada tahun 360 M. Pada saat pembangunan gereja pertama, Istanbul dikenal sebagai Konstantinopel, mengambil namanya dari ayah Konstantius, Constantine I, penguasa pertama Kekaisaran Bizantium.

Hagia Sophia pertama menampilkan atap kayu. Struktur itu dibakar pada tahun 404 SM selama kerusuhan yang terjadi di Konstantinopel akibat dari konflik politik keluarga Kaisar Arkadios, yang pemerintahannya kacau dari 395 hingga 408 SM.

Penerus Arkadios, Kaisar Theodosios II, membangun kembali Hagia Sophia, dan bangunan baru selesai dibangun pada tahun 415. Hagia Sophia kedua berisi lima nave dan pintu masuk yang juga ditutupi oleh atap kayu.

Namun, satu abad kemudian, bangunan itu dibakar untuk kedua kalinya selama pemberontakan Nika terhadap Kaisar Justinian I, yang memerintah dari 527 hingga 565 M.

Tidak dapat memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh kebakaran, Justinian memerintahkan pembongkaran Hagia Sophia pada tahun 532. Dia menugaskan arsitek terkenal Isidoros (Milet) dan Anthemios (Tralles) untuk membangun basilika baru.

Infografis Hagia Sophia (CNNIndonesia)

Hagia Sophia ketiga selesai pada 537 M dan masih berdiri sampai hari ini.

Ibadah keagamaan pertama di Hagia Sophia baru diadakan pada tanggal 27 Desember 537 Masehi. Pada saat itu, Kaisar Justinian dipercaya mengatakan, “Ya Tuhan, terima kasih telah memberi saya kesempatan untuk membuat tempat ibadah seperti itu.”

Dari pembukaannya, Hagia Sophia yang ketiga dan terakhir memang merupakan struktur yang luar biasa. Bangunan ini menggabungkan elemen desain tradisional basilika Ortodoks dengan atap kubah besar, dan altar semi-kubah dengan dua beranda.

Lengkungan pendukung kubah ditutupi dengan mosaik enam malaikat bersayap yang disebut hexapterygon.

Dalam upaya untuk menciptakan basilika agung yang mewakili semua Kekaisaran Bizantium, Kaisar Justinian menetapkan bahwa semua provinsi di bawah pemerintahannya mengirim karya arsitektur untuk digunakan dalam pembangunannya.

Marmer yang digunakan untuk lantai dan langit-langit diproduksi di Anatolia (sekarang Turki timur) dan Suriah, sementara batu bata lainnya (digunakan di dinding dan bagian lantai) berasal dari Afrika Utara. Interior Hagia Sophia dilapisi dengan lempengan marmer besar yang dikatakan telah dirancang untuk meniru air yang bergerak. 104 pilar Hagia Sophia juga diimpor dari Kuil Artemis di Ephesus dan dari Mesir.

Bangunan ini memiliki panjang sekitar 82 meter dan lebar 73 meter dan, pada titik tertinggi, atap kubah membentang sekitar 55 meter. Ketika kubah pertama mengalami keruntuhan sebagian pada 557, penggantiannya dirancang oleh Isidore the Younger (keponakan Isidoros, salah satu arsitek asli) dengan tulang rusuk struktural dan busur yang lebih menonjol, dan versi struktur ini tetap ada sampai sekarang.

Kubah utama Hagia Sophia bersandar pada lingkaran jendela dan didukung oleh dua semi-kubah dan dua bukaan melengkung untuk membuat nave besar, dinding yang awalnya dilapisi dengan mosaik Bizantium rumit yang terbuat dari emas, perak, kaca, terra cotta dan batu berwarna-warni, menggambarkan adegan terkenal dan tokoh-tokoh dari Injil Kristen.

Karena Ortodoks Yunani  menjadi agama resmi Bizantium, Hagia Sophia dianggap sebagai gereja utama, dan dengan demikian menjadi tempat di mana kaisar baru dimahkotai.

Upacara-upacara ini berlangsung di nave, lokasi di mana Omphalion terletak, sebuah bagian marmer bundar besar dari batu berwarna-warni dengan desain melingkar di lantai.

Hagia Sophia berperan penting dalam budaya dan politik Bizantium selama 900 tahun pertama keberadaannya.

Namun selama Perang Salib, kota Konstantinopel termasuk Hagia Sophia, berada di bawah kendali Romawi untuk periode singkat di abad ke-13. Hagia Sophia rusak parah selama periode ini, tetapi diperbaiki ketika Bizantium sekali lagi menguasai kota.

Periode perubahan signifikan berikutnya untuk Hagia Sophia dimulai kurang dari 200 tahun kemudian, ketika Ottoman (Utsmaniyah), dipimpin oleh Kaisar Fatih Sultan Mehmed, yang dikenal sebagai Mehmed sang Penakluk, merebut Konstantinopel pada tahun 1453. Ottoman mengganti nama kota Konstantinopel menjadi Istanbul.

Dengan penaklukan Istanbul, Hagia Sophia dengan cepat menjadi ikon budaya, membawa warisan yang mendalam ke Turki hari ini.

Dinamai “Masjid Agung”, segala upaya dilakukan Ottoman untuk melestarikan dan memperbaiki desain yang cacat secara struktural akibat kubah utama yang berat, yang bertengger di sebuah basilika panjang.

Penopang ditambahkan ke sisi Hagia Sophia untuk mencegahnya runtuh pada masa pemerintahan Murad III oleh arsitek sejarah Sinan yang terinspirasi oleh bangunan kuno, dan menggabungkan gaya dengan seni Islam dan estetika dalam serangkaian Masjid Agung, menurut TRT.

Serangkaian struktur tambahan dibuat termasuk sekolah dan air mancur selama pemerintahan Sultan Mahmud I, dan ruang jam pada masa Sultan Abdulmejid, yang dilakukan oleh arsitek Swiss dari tahun 1847-1849.

Pada 2015, seorang ulama membacakan Al Quran di dalam Hagia Sophia untuk pertama kalinya dalam 85 tahun. Tahun berikutnya, otoritas agama Turki mulai menjadi tuan rumah dan menyiarkan ayat-ayat kitab suci selama bulan suci Ramadan dan azan dikumandangkan pada malam Nuzulul Quran.

UNESCO pada hari Kamis menyatakan bahwa mereka harus diberitahu tentang perubahan status Hagia Sophia dan perubahan mungkin harus ditinjau oleh Komite Warisan Dunia. UNESCO mengatakan kepada Reuters bahwa Hagia Sophia termasuk dalam daftar Situs Warisan Dunia sebagai museum dan karena itu memiliki komitmen dan kewajiban hukum tertentu.

Bisa Dikunjungi Turis di Luar Waktu Salat

Badan ulama Turki, Diyanet, menyatakan hanya akan membuka Hagia Sophia, yang saat ini difungsikan sebagai masjid, untuk kunjungan wisata di luar waktu salat lima waktu.

Seperti dilansir AFP, Rabu (15/7), Diyanet menyatakan simbol-simbol Kristen di dalam Hagia Sophia juga tetap dipertahankan.

Ilustrasi interior Hagia Sophia di Istanbul, Turki. (AP/Emrah Gurel)

“Tidak ada halangan dari sisi agama jika Masjid Hagia Sophia dibuka untuk umum di luar jam salat,” demikian isi pernyataan Diyanet.

“Simbol-simbol (Kristen) akan ditutup saat masuk waktu salat dan diperlihatkan kembali setelahnya,” lanjut pernyataan tersebut.

Menurut Diyanet, keberadaan simbol-simbol Kristen di Masjid Hagia Sophia tidak akan membuat ibadah salat tidak sah.

Selama ini Hagia Sophia menjadi salah satu tujuan wisata populer di Turki. Erdogan menjanjikan Hagia Sophia akan tetap terbuka bagi seluruh umat beragama.

“Kita telah mengembalikan status Hagia Sophia sebagai cagar budaya persis yang dilakukan para pendahulu. Saya ingin menekankan bahwa Hagia Sophia diubah menjadi masjid dari sebuah museum, bukan gereja,” ujar Erdogan. [cnnindonesia/tempo/detikcom dan berbagai sumber]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here