GTRA Kabupaten Aceh Besar dan Poktan Oisca Lamteuba Tanam Perdana Jagung di Eks Lahan Ganja

0
24615
Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kabupaten Aceh Besar bersama Kelompok Tani Oisca Lamteuba melakukan penanaman perdana tanaman Jagung di eks. lahan ganja yang menjadi "Pilot Project Kebun Jagung Reforma Agraria", pada, Kamis (1/10/2020), di Desa Lambada, Mukim Lamteuba, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar. (Akbar Maulana/ Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Besar for Ruangredaksi.com)

Ruangredaksi.com, Jantho – Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kabupaten Aceh Besar bersama Kelompok Tani Oisca Lamteuba melakukan penanaman perdana tanaman Jagung di eks lahan ganja yang menjadi “Pilot Project Kebun Jagung Reforma Agraria”, pada Kamis (1/10/2020), di Desa Lambada, Mukim Lamteuba, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar.

Penanaman perdana tanaman jagung di lahan seluas 40 hektare dilakukan oleh Bupati Aceh Besar, Ir. Mawardi Ali yang diwakili oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekdakab Aceh Besar, Abdullah S.Sos, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) ATR/BPN Provinsi Aceh, Agustyarsyah S.SiT., S.H., MP, Kepala Bidang Penataan Pertanahan Kanwil ATR/BPN Provinsi Aceh, Akhyar Tarfi, S. ST., M.H, Kepala Kantor Pertanahan (Kakantah) Kabupaten Aceh Besar, Agusman A.Ptnh, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar, Jakfar, SP, Kepala Baitul Mal Kabupaten Aceh Besar, Zamri A Rafar, pihak Koramil Kecamatan Seulimeum, Kelompok Tani Oisca Lamteuba, tokoh masyarakat Desa Lambada dan Rombongan Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA).

Dalam sambutannya, Bupati Aceh Besar yang juga Ketua Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kabupaten Aceh Besar, Ir. Mawardi Ali, melalui Plt. Sekdakab Aceh Besar, Abdullah S.Sos, mengatakan, Pandemi COVID-19 telah mengubah tatanan hidup masyarakat, sehingga berdampak sangat besar bagi perekonomian. Dimana menurutnya, kini pendapatan masyarakat turun sangat drastis dibanding sebelum pandemi COVID-19. Sehingga melalui Pilot Project Kebun Jagung Reforma Agraria ini, dapat menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan petani.

“Pada hari ini, untuk pertama kalinya dan yang pertama dilakukan di Provinsi Aceh kita semua melakukan penanaman Jagung yang diwadahi oleh Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA). Hari ini 1 Oktober 2020 kita semua akan mencatatkan sejarah bahwa hamparan seluas 40 hektare ini, yang dulunya merupakan bekas lahan yang ditanami ganja, akan kita ditanami dengan tanaman Jagung yang berkualitas sehingga hasilnya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat petani di Desa Lambada,” ujar Abdullah.

Menurut Abdullah, Desa Lambada yang terdapat di Kemukiman Lamteuba memiliki luas mencapai 3.548 ha, dimana Sebagian besar profesi masyarakatnya adalah petani atau pekebun. “Desa Lambada memiliki potensi pertanian yang sangat baik dikarenakan tanah di Kawasan Lambada sangat Subur,” tambahnya.

Dirinya menuturkan, bahwa wadah Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kabupaten Aceh Besar yang dibentuk November 2019 lalu, merupakan tempat untuk menampung keinginan dan juga kebutuhan masyarakat dengan tujuan mensejahterakan. Oleh karena itu, Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) ini memiliki fungsi penting bagi kita semua. Apalagi menurutnya, terdapat 10 instansi di Kabupaten Aceh Besar yang menjadi bagian dari Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA).

“Di dalam GTRA apabila masyarakat ingin membuat sertipikat disitu ada Kantor Pertanahan (Kantah), apabila masyarakat butuh hal-hal untuk bertani disitu ada Dinas Pertanian, apabila butuh bantuan dalam bentuk uang disitu ada Baitul Mal yang dapat disalurkan dalam bentuk zakat kepada masyarakat Miskin, dan juga Dinas-Dinas lainnya yang tergabung didalam Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA),” kata Abdullah.

Berdasarkan data dari Kantor Pertanahan (Kantah) Kabupaten Aceh Besar, bahwa lahan yang menjadi Pilot Project Kebun Jagung Reforma Agraria Kabupaten Aceh Besar ini telah dilakukan pensertipikatan tanah gratis melalui kegiatan Redistribusi Tanah pada Tahun 2019.

Berita Terkait : 40 Hektar Eks Lahan Ganja di Desa Lambada Jadi Pilot Project Kebun Jagung Reforma Agraria Kabupaten Aceh Besar

Seperti diketahui, pada awalnya lahan ini merupakan lahan tidur yang sudah lama tidak digarap dan tidak diberdayakan oleh masyarakat sehingga lahannya menjadi terlantar. Namun, kini lahan seluas 40 hektar eks lahan ganja ini akan menjadi Pilot Project Kebun Jagung Reforma Agraria serta digarap oleh para petani di Desa Lambada khususnya Kelompok Tani Oisca Lamteuba yang berjumlah 40 Petani.

“Terima kasih saya ucapkan kepada seluruh instansi yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan milik kita Bersama ini. Khususnya Pihak Baitul Mal Kab. Aceh Besar yang telah membantu pemagaran lahan, pihak Dinas Pertanian Kab. Aceh Besar dalam Hal penyediaan bibit dan traktor untuk pembajakan dan Pihak Kantor Pertanahan Kab. Aceh Besar yang telah melakukan Pensertipikatan gratis dan juga seluruh masyarakat yang terlibat untuk menyukseskan kegiatan kita ini,” tutup Abdullah, seraya menyatakan bahwa kegiatan Penanaman Perdana Jagung siap untuk di Tanami.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Kantor Pertanahan (Kakantah) Kabupaten Aceh Besar yang juga sebagai Pelaksana Harian Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kabupaten Aceh Besar, Agusman A.Ptnh, menurutnya, kegiatan Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) merupakan strategi Reforma Agraria dalam konteks peningkatan asset dan akses kaum tani menengah kebawah terhadap penguasaan tanah di Kabupaten Aceh Besar, yang salah satunya yaitu pemberdayaan lahan tidur berupa penanaman bibit jagung pakan.

“Kegiatan ini merupakan kerjasama Pemerintah Kabupaten Aceh Besar serta lintas sektoral antara Dinas Pertanian, Kantor Pertanahan, Dinas Pertanahan, Baitul Mal Kabupaten Aceh Besar dan Anggota Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Lainnya,” kata Agusman.

“Melalui penataan aset, penataan pengunaan tanah dan penataan akses, lahan seluas 40 Hektar di Desa Lambada, Kecamatan Seulimeun ini dapat memberikan peningkatan penghasilan bagi petani di Desa Lambada sebagai Outcome Reforma Agraria,” lanjutnya.

Menurut Agusman, lahan Pemberdayaan optimalisasi lahan tidur ini sudah memiliki sertipikat tanah melalui program legalissasi Aset oleh Badan Pertanahan Nasional yaitu Sertipikat Redistribusi Tanah yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan (Kantah) Kabupaten Aceh Besar pada tahun 2019.

“Kami berharap kegiatan pemberdayaan lahan tidak produktif dapat dilanjutkan secara berkesinambungan agar masyarakat-masyarakat kita khususnya di Aceh Besar dapat meningkatkan Perekonomiannya,” ujarnya.

Berita Terkait : Kakantah Kabupaten Aceh Besar Tinjau Lokasi Pemberdayaan Lahan Tidur di Desa Lambada

Sementara itu, Fakhri, salah seorang petani yang tergabung dalam kelompok Tani OISCA Lamteuba, menuturkan, jika dulu pembicaraan di warung kopi desanya hanya seputaran tanaman ganja, kini topiknya telah beralih tentang tanaman palawija.

“Kalau dulu daerah kami sebagai penghasil ganja tetapi sekarang produksi palawija. Dan dengan adanya kegiatan Pilot Project Kebun Jagung Reforma Agraria ini, kami mengharapkan tidak ada lagi nama-nama buruk itu tentang kampung kami,” ujar Fakhri.

Menurut Fakhri, dirinya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang selama ini terus-menerus membantu masyarakat Lamteuba atau Desa Lambada khususnya, agar dapat mengubah kebiasaan lama dari penanam ganja menjadi petani palawija.

“Saya mewakili Kelompok Tani OISCA Lamteuba, sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang selama ini membantu kami petani. Apalagi program pengembangan tanaman jagung di kawasan Lamtueba ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani di tengah pandemi Covid-19 yang melanda saat ini,” kata Fakhri.

“Kami ingin lahan pertanian jadi lahan produktif, oleh sebab itu kami sangat berharap pada tahun ini eks lahan ganja seluas 40 hektar ini yang kita tanami jagung ini dapat berjalan sukses dan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” lanjutnya.

Tak dipungkiri, Desa Lamteuba, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar, merupakan daerah yang dulunya menjadi salah satu daerah penghasil ganja terbesar di Provinsi Aceh. Kini wajah Lamteuba telah berubah dari penghasil ganja menjadi daerah produksi tanaman palawija terbesar di Aceh Besar. Berada di kaki Gunung Seulawah Agam, permukiman Lamteuba memiliki 8 desa yaitu Ateuk, Blang Tingkeum, Lam Apeng, Lambada, Lampante, Lamteuba Droe, Meurah, dan Desa Pulo.

Terakhir Agusman mengatakan, bahwa kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan sukses sampai hari ini dikarenakan adanya kerjasama dinas lintas sektoral dilingkungan Kabupaten Aceh Besar dan Semangat petani khususnya Desa Lambada.

“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat untuk menyukseskan kegiatan ini dan semoga apa yang kita tanami bersama ini, bisa menuai hasil panen yang baik dan dapat dirasakan oleh petani dan masyarakat khususnya di desa Lambada,” tutup Agusman. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here