Dunia Peringati Hari Gajah Sedunia 2020

0
1836
Aktor Chicco Jerikho mengunjungi Aceh untuk pertama kalinya, pada Jum’at (11/08), agar dapat melihat langsung kehidupan gajah sumatera yang berada di landscape DAS Peusangan, Aceh. (Aulia Ferizal)

Ruangredaksi.com, Banda Aceh – Sejak tanggal 12 Agustus 2012, PBB menetapkan 12 Agustus setiap tahunnya untuk memperingati sebagai Hari Gajah Sedunia (World Elephant Day). Gajah merupakan mamalia darat terbesar yang ada di dunia saat ini. Namun sayangnya, dewasa ini populasi gajah semakin menurun tiap tahunnya. Padahal, gajah merupakan mamalia yang cerdas dan cinta damai.

PBB bertujuan dengan ditetapkannya Hari Gajah Sedunia adalah untuk memberi tahu dunia bahwa kelangsungan hidup gajah, terutama di daerah Asia dan Afrika, sudah terancam punah. Dengan adanya Hari Gajah Sedunia, diharapkan kepedulian masyarakat terhadap hidup gajah semakin meningkat.

Hari Gajah Sedunia, AJI Banda Aceh Bahas Soal Kematian Gajah Di Aceh

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh menggelar diskusi media memperingati Hari Gajah Sedunia 2020. Diskusi dengan tema “Mengungkap Kematian Gajah di Aceh” ini berlangsung di Hotel Kyriad, Banda Aceh, Rabu (12/8/2020).

Diskusi ini diisi oleh sejumlah pemateri dari Kepolisian Daerah (Polda) Aceh, BKSDA Aceh, DLHK Aceh, Ketua TPFF Karang Ampar, dan Ketua AJI Banda Aceh.

Ketua AJI Banda Aceh, Misdarul Ihsan mengatakan, diskusi ini digelar bermula dari keprihatinan jurnalis terhadap nasib gajah di Tanah Rencong yang terancam punah. Selain itu, diskusi ini juga untuk memberi pemahaman kepada para jurnalis tentang isu gajah.

“Beranjak dari kekhawatiran ini, kita menggelar diskusi ini dan pesertanya para jurnalis di Banda Aceh,” ujar Ihsan.

Singapura musnahkan 9 ton gading gajah sitaan saat Hari Gajah Sedunia

Pekerja dari Dewan Taman Nasional (National Parks Board/NParks) Singapura memindahkan gading gajah sitaan untuk dimusnahkan dalam rangka memperingati Hari Gajah Sedunia yang jatuh pada 12 Agustus di salah satu fasilitas NParks, di Singapura, Selasa (11/8/2020).  NParks menghancurkan 9 ton gading gajah senilai 18 juta dolar Singapura (1 dolar Singapura = Rp10.694), yang sebagian besar disita pada 21 Juli 2019 dalam penyitaan gading gajah terbesar di negara tersebut.

Singapura pada Selasa (11/8) mulai menghancurkan sembilan ton gading gajah. Penghancuran berton-ton gading itu juga dan menandakan perjuangan negara pulau itu dalam melawan perdagangan ilegal satwa liar.

Singapura menjadi titik jalur pelayaran dalam pengiriman produk hewan terlarang antara Afrika dan Asia. Negara itu menghancurkan gading senilai 18 juta dolar Singapura (sekitar Rp 193,2 miliar), termasuk rekor 8,8 ton gading sitaan tahun lalu yang dikatakan otoritas berasal dari 300 gajah.

Dalam acara yang disiarkan secara daring, para pekerja dengan mengenakan helm terlihat sedang mengosongkan troli berisi gading ke sebuah tempat pembuangan, tempat gading-gading itu kemudian diremukkan dengan alat penghancur batu industri. Proses penghancuran mungkin memakan waktu beberapa hari dan pecahannya kemudian akan dibakar.

“Penghancuran akan mencegah gading masuk kembali ke pasar dan akan mengganggu rantai pasokan global gading yang diperdagangkan secara ilegal,” kata Dewan Taman Nasional tentang penghancuran tersebut, yang diadakan menjelang Hari Gajah Sedunia.

Diperkirakan 100 gajah Afrika dibunuh setiap hari oleh pemburu yang mencari gading, daging, dan bagian tubuh hewan itu. Perburuan menjadikan jumlah gajah yang tersisa hanya 400.000 ekor, menurut perkiraan ahli lingkungan.

Hari Gajah Sedunia, Pemerhati Gajah Kecam Perburuan Satwa Liar

Memperingati Hari Gajah Sedunia tanggal 12 Agustus, Ketua Harian Perkumpulan Penyelamat Hutan Satwa, yang juga anggota Forum Konservasi Gajah Indonesia, Syamsuardi, mengapresiasi pihak kepolisian yang bergerak cepat dan mampu menangkap pemburu gajah, pada awal Agustus lalu di Indragiri Hulu, Riau.

Menurutnya, dari berbagai faktor seperti konflik satwa dengan manusia, kerusakan habitat, dan perburuan liar, faktor terakhir sangat berkontribusi pada berkurangnya populasi gajah.

Data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyebutkan bahwa populasi gajah di Indonesia saat ini masuk dalam kategori kritis dengan hanya tersisa sekitar 2.400 hingga 2.800 ekor, turun hingga 32 persen sejak tahun 1992.

“Kami komunitas pemerhati gajah mengecam perburuan satwa liar, dan mengucapkan selamat atas keberhasilan pihak kepolisian dalam penangkapan tersebut. Namun, seperti yang diakui oleh para penegak hukum, pelaku yang ditangkap kali ini juga merupakan tersangka perburuan liar yang tertangkap pada tahun 2015 silam, orangnya itu-itu saja,” ujar Syamsuardi dalam keterangan yang diterima Tempo, Selasa, 11 Agustus 2020.

“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua untuk meringkus sindikat perburuan satwa liar yang lebih luas, karena memang sulit untuk mengungkap jaringan yang sangat rapat dan profesional,” ujarnya.

Lebih lanjut menurut Syamsuardi, tak hanya penegak hukum yang perlu berperan untuk mengurangi ancaman terhadap populasi satwa liar ini, melainkan juga masyarakat dan pihak swasta.

Menurutnya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk hidup berdampingan dengan satwa liar ini. “Selama mereka berada dalam kelompok, gajah adalah satwa yang setia dengan jalurnya. Mereka punya jalur permanen yang dilalui selama bertahun-tahun,” ujarnya.

“Maka jika patroli rutin dilakukan oleh masyarakat dan perusahaan yang kawasan konsesinya menjadi rumah bagi gajah, akan lebih mudah untuk merawat ruang hidup mereka. Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengurangi penggunaan alat yang berbahaya, seperti petasan untuk menghalau gajah. Gunakanlah meriam karbit, yang tidak punya risiko kebakaran dan tidak melukai,” Syamsuardi menegaskan.

Banyak pihak telah menyadari pentingnya memahami cara hidup yang aman dan nyaman berdampingan dengan satwa di alam liar. Syamsuardi mengatakan bahwa komunitas pemerhati satwa liar kerap diminta untuk memberikan sosialisasi dan pelatihan bagi perusahaan-perusahaan dalam upaya menerapkan best practice management.

Kerja sama berbagai pihak diperlukan untuk mendukung kelestarian satwa liar. Hari Gajah Sedunia dapat menjadi pengingat bagi semua untuk lebih keras berupaya membentuk sistem dan mendorong pergeseran kebudayaan di tengah masyarakat, sehingga dapat lebih nyaman hidup berdampingan dengan satwa.

Saatnya Berbagi Ruang dengan Gajah Sumatra

Dalam 30 tahun mendatang, gajah Sumatra akan punah apabila tidak ada langkah segera untuk melindungi habitatnya yang semakin tergerus.

Menunjuk pada sudah terpangkasnya 70% kawasan alami gajah di Sumatra, Serikat Internasional untuk Konservasi Alam, IUCN, menaikan peringkat sub-spesies gajah Sumatra dari kategori „terancam“ menjadi „sangat terancam“.

Persoalan gajah dengan manusia tidak akan habis-habisnya. Hewan yang dilindungi negara ini telah berulangkali beraksi merusak tanaman warga, karena habitatnya juga telah rusak akibat ulah tangan manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here