Covid-19, Ujian Orang Tua di Masa Pandemi

0
515

Keluarga (orang tua) merupakan salah satu kelompok sosial yang sangat merasakan dampak dari pandemi Covid-19. Selama masa pandemi ini, terhitung sejak pertengahan Maret lalu atau seiring dengan turunnya surat dari Kemdikbud, yang berisi perihal pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah guna mencegah penyebaran Covid-19, semua orang tua dipaksakan untuk menyambung nafas pendidikan atau hak belajar anaknya dari rumah. Sekolah-sekolah tidak dibolehkan lagi melaksanakan pembelajaran secara tatap muka, semua lembaga pendidikan pun diperintahkan untuk menyelenggarakan pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Adanya PJJ praktis membuat para orang tua dilema; satu sisi mereka harus memenuhi tanggung jawab keluarganya untuk pemenuhan ekonomi keluarga, kemudian di sisi lain mereka juga harus menunaikan tugas keberlangsungan pendidikan untuk anaknya –yang selama ini dilimpahtugaskan ke sekolah-sekolah.

Adalah sebuah realitas yang tidak bisa dimungkiri, bila selama ini, pada sebagian besar orang tua terketam semacam pandangan bahwa pendidikan (aktivitas belajar) anak ialah tugas dan tanggung jawabnya para guru di sekolah. Padahal, aktivitas belajar anak adalah tanggung jawabnya para orang tua, yang dibantumaksimalkan oleh sekolah. Sebagaimana dikatakan oleh Jalaluddin Rahmat dalam bukunya berjudul Islam aktual (1986) dari tujuh fungsi keluarga dalam masyarakat, salah satunya yaitu fungsi edukatif yakni keluarga (melalui orang tua) memberikan pendidikan untuk anak-anaknya. (Tujuh fungsi keluarga; fungsi ekonomis, fungsi edukatif (pendidikan), fungsi religius, fungsi sosial, fungsi rekreatif, fungsi proyektif, dan fungsi afeksi)

Oleh karenanya, bersandar dari yang dikatakan Jalaluddin Rahmat, tanggung jawab orangtua untuk mendidik anak tidaklah boleh dilepaskan begitu saja ke pundak guru-guru di sekolah.

Masalah Baru

Persoalan baru yang mengemuka selama pandemi ini, dalam kaitan PJJ, adalah banyaknya keluhan –juga omelan- yang datang dari para orang tua menyasar para guru (sekolah). Banyak orang yang mengeluhkan sikap-sikap sang anaknya di rumah, yang tidak mau mengerjakan tugas, tidak mau ikut pertemuan tatap muka daring, lebih sibuk sama hal lainnya, dan lain sebagainya. Juga banyak orang tua yang dengan ocehannya mendiskreditkan para guru yang konon sudah memborbardir anaknya dengan tugas-tugas, yang jangankan anaknya, mereka saja tidak memahami bentuk tugas tersebut.

Tak ayal, para orang tua menuntut agar sekolah-sekolah dapat melaksanakan kembali pembelajaran sebagaimana normalnya. Di sini, seakan para orang tua tidak mau menggubris terhadap ancaman dari makhluk maha kecil bernama Corona yang sedang mengintai gerakgerik kita manusia. Sedikit saja lengah (lalai), maka ia akan dengan cerdasnya masuk ke tubuh kita, untuk melakukan mutasi diri, yang dalam prosesnya membahayakan organ-organ vital yang dimiliki tubuh kita, mulai dari pernafasan dan lain sebagainya.

Ujian Orang Tua

Hakikatnya, jika kita mau sedikit merenung, adanya Covid-19 tak ubahnya sebuah ujian atau semacam challenge bagi para orang tua; seberapa efektif dan kreatifnya mereka dalam menjalankam fungsi keluarganya.

Adanya Covid-19, merupakan peluang terbaik bagi orang tua untuk membangun quality time bersama anaknya. Khususnya bagi mereka yang selama ini menghabiskan waktunya dari pagi hingga sore untuk bekerja.

Pandemi, juga menjadi momen tepat bagi orangtua untuk lebih mengenal anaknya lebih dekat, termasuk cara belajar anaknya. Atau bahkan, ini bisa jadi kesempatan bagi orangtua untuk belajar bersama dan dari anaknya; ikut mempelajari hal-hal terbaru. Kalaupun ada banyak hal yang tidak diketahui, tidak perlu pula malu mengakui akan ketidaktahuan tersebut di depan anak. Justru nilai kejujuran, yang mestinya menjadi keharusan dalam setiap aktivitas itu, akan menjadi teladan bagi anak dalam keluarga.

Para orang tua, di masa pandemi ini, dapat duduk santai bersama sang anak dan bertanya seputar kegiatan mereka; apa yang mereka lakukan, bagaimana hasilnya, dimana kendalanya dan lain sebagainya.

Pertanyaan sederhana seperti itu akan menjadi vitamin terbaik bagi seorang anak untuk meng-upgrade dirinya dengan cara; belajar, belajar, dan belajar. Sejumlah studi, yang dengan mudah dapat kita baca di banyak media, memaparkan tentang adanya korelasi keberhasilan pendidikan anak dengan lingkungan keluarga yang harmonis, di mana para orang tua “masuk” dalam aktivitas belajar anaknya. Salah satunya melalui suntikan motivasi yang dengan mudah dapat diselipkan saat berinteraksi secara dekat dengan anaknya.

Pengertian Bersama

Pandemi Covid-19 merupakan masalah sosial yang benar-benar baru bagi kita. Di awal ada banyak pihak menyamakannya dengan wabah Ta’un Ija Brok (perpekstif orang Aceh), dan disebut juga dengan Black Dead (perspektif orang Eropa). Sekilas gejalany emang sama, namun dalam proses perjalannya kita lihat, Covid-19 ini (sekali lagi) benar-benar baru bagi kita.

Menghadapi pandemi ini pun tidak boleh serta merta dipulangpikirkan pada pemerintah saja, atau oleh pemerintah membebankannya kepada masyarakat saja. Di sini butuh kerjasama dan perhatian bersama.

Dalam kaitan kesuksesan pendidikan di masa pandemi, atau PJJ, para orang tua harus bersinergi dengan para guru (sekolah) memastikan bahwa pemenuhan bak belajar anak terpenuhi. Tidak hanya dibebankan ke salah satu pihak; guru saja, atau orang tua saja.

Saya sangat salut ketika mendapati cerita beberapa orang tua, di mana mereka sampai harus menambahkan list tugas hariannya di rumah, yaitu menjadi guru bagi anaknya. Saya kira, orang tua semacam inilah yang mengerti peran dan tanggungjawabnya, dan juga mengerti akan seberapa besar ancaman yang sedang dihadapi.

Mudah-mudahan saja, wabah covid-19 segera menemukan ajalnya. Karena sebagai guru, saya juga sudah sangat rindu untuk melaksanakan pembelajaran secara langsung dengan anak didik saya, yang kakakternya sangat beragam itu. Hingga saya harus selalu mengingat akan prinsip yang saya pegang teguh sejak dulu; menjadi guru, su beuraya, saba beuleu (menjadi guru, suara harus besar, sabar harus banyak).

Penulis :
Muhammad Syawal Djamil

Pengajar di Sekolah Sukma Bangsa Pidie

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here