Belajar Dari Tragedi G30S/PKI

0
301
Museum (monumen) Pancasila Sakti terletak di Jalan Pondok Gede Raya, Lubang Buaya – Jakarta Timur. Pada tanggal 30 September 1965, terjadi insiden yang dinamakan Gerakan 30 September (G30S).

Oleh: Muhammad Syawal Djamil*

Gerakan 30 september/PKI atau yang lebih populer dikenal dengan istilah G30S/PKI merupakan salah satu peristiwa yang sulit dilupakan. Peristiwa kelam yang dimotori oleh kaum komunis, bersama dengan partai dan sayap-sayap organisasinya itu, mengakibatkan beberapa petinggi militer Indonesia, tokoh-tokoh agama dan ribuan rakyat Indonesia meninggal dengan sadis.

Sejarah G30S/PKI tersebut terekam jelas dan membekas dalam memori mereka para korban yang kini (bila masih hidup) sudah berusia tua.  Keberingasan kaum komunis dalam upaya kudeta dapat kita tangkap dengan gamblang dalam literatur sejarah dan juga film G30S/PKI.

Dulu, setiap tanggal 30 September, pemerintah pada masa orde baru (orba) mengharuskan masyarakat Indonesia untuk menonton film yang memuat tragedi G30S/PKI tersebut. Namun demikian, keharusan menonton “film G30S/PKI”  menemui riwayat akhirnya seiring dengan berakhirnya kekuasaan orba.

Film arahan sutradara Arifin C. Noer yang didanai oleh rezim orba tersebut dianggap oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai film yang tidak sepenuhnya menggambarkan peristiwa G30S PKI. Pula, istilah G30S/PKI mengandung monopoli kebenaran yang selalu dipakai orba sebagai bentuk tafsir tunggal atas kebenaran sejarah pada sekitar tahun 1965 (Notosusanto dan Saleh, 1966; Manfe, 2008).

Tak hanya itu, film tersebut –dengan segala informasi sarat kontroversialnya, ditengarai memiliki kepentingan politik rezim orba. Bahkan, hingga kini, meski sudah berpuluh-puluh tahun lamanya peristiwa tersebut, narasi-narasi tentang PKI yang mengaitkan dengan rezim orba masih bergulir tajam pada masyarakat, khususnya ketika memasuki bulan September.

Pada satu sisi, membicarakan tragedi ini sama halnya menguak luka lama,  keganasan kaum komunis yang beringas dalam membunuh banyak masyarakat Indonesia dan tokoh-tokoh masyarakatnya adalah kenangan buruk bagi korban dan keluarganya, yang tentunya tidak mau diungkit kembali. Namun di sisi yang lain, menguburkan narasi tentang tragedi ini sama halnya menghapus warna sejarah perjalanan Indonesia. Sementara Soekarno saja, presiden pertama Indonesia, selalu mengingatkan kita sebagai generasi Indonesia agar tidak melupakan sejarahnya. Semua pasti sudah pada tahu slogan “jasmerah”nya, yang merupakan akronim dari kata jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Makanya, meski sudah melewati lebih dari setengah abad, peristiwa G30S/PKI masih diperdebatkan hingga sekarang. Masih ada pro-kontra dan tumpang tindih informasi, yang merujuk pada catatan hasil investigasi peneliti dan saksi sejarah yang masih hidup. Perdebatan itu memang mengarah pada ihwal mencari tahu siapa yang salah, siapa yang benar atau siapa dalang dibalik semua tragedi itu.

Namun bagi kita, yang sudah kadung hidup tentram di era sekarang, yang terpenting tentunya bukanlah itu, melainkan bagaimana kita dapat mengambil pelajaran atas ketangkasan para pendahulu kita yang dengan sekuat tenaga telah menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan negara, yang wilayahnya tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Kepulauan Miangas hingga Kepulauan Rote, dari bahaya komunisme.

Berawal dari Fanatisme

Disadari atau tidak, peristiwa G30S/PKI memberikan hikmah besar bagi kita bangsa Indonesia. Dikatakan hikmah karena ada satu nilai esensi yang dapat kita petik dari tragedi itu. Seperti kata bijak; ketika Allah menutup satu pintu, pasti Allah membuka pintu lain yang lebih baik.

Bahwa keberingasan kaum komunis, hingga mengakibatkan ribuan nyawa rakyat yang tidak berdosa menjadi korban, salah satunya diyakini berawal dari sikap fanatisme yang dimiliki oleh mereka. Fanatisme dimaknai sebagai suatu sikap yang dilatarbelakangi oleh kecintaan yang berlebihan terhadap sesuatu yang diyakini kebenarannya, baik itu berhubungan dengan aliran atau kepercayaan yang diyakininya.

Kecintaan berlebihan terhadap isme yang dianut kaum komunis, mendorong mereka mencari pembenaran terhadap ideologi tersebut. Dan bahkan mereka berusaha memaksakan paham tersebut kepada orang lain. Syukur, saat itu rakyat Indonesia yang didukung oleh aparat keamanan dengan sigap dan tangkas menyikapi pergerakan kaum komunis dan juga ideologinya –meskipun beragam kekeliruan  juga tidak luput terjadi dalam upaya ini.

Bagi sebuah entitas masyarakat –seperti Indonesia– yang multikultural, fanatisme menjadi penyakit yang berbahaya. Adanya fanatisme pada suatu kelompok masyarakat dapat meruntuhkan persatuan dan kesatuan. Abul A’la Al Maududi, dalam bukunya berjudul Islam Masa Kini (1996:41-42) yang diterjemahkan oleh Arif Rahman Hakim, mengatakan runtuhnya Daulah Bani Umayyah di Andalusia hingga menjadikannya kepingan-kepingan yang tak berarti, yang satu sama lainnya saling bertentangan disebabkan oleh penyakit fanatisme. Hal ini terjadi pula di jazirah Arabia, Persia, Afganistan, Turki, India dan wilayah-wilayah Islam lainnya.

Masyarakat Tidak Kritis

Sedari belum merdeka, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius; percaya pada nilai-nilai ketuhanan. Bahkan perjuangan melawan bangsa kolonial, dalam rangka meraih kemerdekaan dilatarbelakangi oleh semangat religiositas.

Sementara ideologi komunis dikenal sebagai paham yang tidak mengakui adanya Tuhan. Oleh karenanya, banyaknya massa PKI dan yang menjadi simpatisan PKI pada tahun 60-an menimbulkan pertanyaan; kenapa rakyat  Indonesia yang religius itu mau dan bersedia bergabung dengan kelompok yang tidak mengakui adanya Tuhan tersebut.

Oleh beberapa peneliti menduga banyaknya massa dan simpatisan PKI pada masa itu dilandasi oleh faktor masyarakat Indonesia yang tidak kritis. Tak hanya itu, tingkat literasi (membaca dan menulis) masyarakat Indonesia yang dinilai rendah mendukung kaum komunis menggelabui rakyat Indonesia. Makanya jangan heran pula kita, kenapa banyak rakyat jelata menjadi korban “pembersihan” paham komunis oleh aparat keamanan.

Nah, dalam konteks kekinian, sikap kritis itu sangat penting untuk dibudayakan. Mengingat era perkembangan teknologi, komunikasi dan informasi yang bergerak cepat. Kritis saja tidak lagi cukup di era kini, tapi harus dibarengi oleh sikap selektif.

Banyaknya masyarakat yang menjadi tersangka penyebaran infomasi sesat alias hoax pada beberapa tahun terakhir tak lain ialah dikarenakan tidak adanya sikap kritis dan selektif pada mereka. Terkadang ada yang kritis namun tidak selektif dalam menerima informasi, akhirnya mereka harus berurusan dengan Polisi dan berakhir dengan dibui.

Di lembaga pendidikan, baik itu di perguruan tinggi atau di tingkat sekolah, pengajar harus mengambil peran dalam upaya menumbuhkan sikap kritis dan selektif pada peserta didik.

Apalagi berkenaan dengan materi yang kontroversial, dalam kaitan peristiwa G30S/PKI misalnya, pengajar jangan hanya menceritakan peristiwa tersebut dalam versi tunggal saja; PKI sebagai dalang peristiwa tersebut atau rezim orba dibelakang peristiwa itu. Melainkan harus dijelaskan dalam banyak versi, sehingga menantang peserta didik untuk berpikir kritis dan tentunya selektif juga.

Demikian juga dalam memaparkan isu-isu kekinian yang sarat kontroversialnya, pengajar sebisa mungkin harus bersikap objektif dan mengulik sebuah isu dari beragam versi. Sehingga, melalui cara ini, diharapkan dapat menumbuhkembangkan budaya kritis pada generasi Indonesia di masa yang akan datang. Nah!

* Penulis adalah Pengajar di Sekolah Sukma Bangsa Pidie. Email; syawalmj@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here