Adun Munawir Pahlawan Penyelamat Penyu Dari Blangmee

0
900
Adun Munawir (30). Dok. Pribadi

Ruangredaksi.com, Jantho – Namannya Adun Munawir, warga Desa Blang Mee, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Pemuda berusia 30 tahun ini, dalam beberapa hari terakhir tengah menjadi pusat perhatian masyarakat sekitar pesisir Aceh Besar, khususnya kecamatan Lhoong.

Keberhasilan dirinya dalam menyelamatkan puluhan telur penyu dari kepunahan, dengan cara pengetasan (penangkaran) merupakan cara Munawir untuk tetap menjaga habitat satwa penyu disekitar pesisir tempat tinggalnya. Hasilnya, puluhan telur penyu yang ia tetaskan berhasil dikembang biakkan menjadi tukik-tukik (anak penyu) yang lucu dan menggemaskan.

Puluhan tukik itulah yang kemudian dilepasliarkan dan disaksikan langsung oleh sejumlah Dinas terkait seperti Kepala DKP Aceh, Kepala BPSPL Padang, Kepala PSDKP Lampulo Aceh, Kepala SKIPM I Aceh, Kepala DKP Kab. Aceh Besar, Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan UNSYIAH, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Teuku Umar, Camat Lhoong, Aparatur Mukim Blangmee, Keuchik Gampoeng Blangmee, WCS Marine Aceh, WWF Indonesia hingga masyarakat setempat.

Adun Munawir mengatakan, Pelepasan tukik ini menjadi modal awal untuk pelestarian penyu di pesisir pantai Blangmee, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. “Mudah-mudahan ini bisa diikuti di daerah lain di Kecamatan Lhoong, karena beberapa daerah di pesisir pantai kecamatan Lhoong menjadi titik-titik pendaratan penyu yang akan bertelur,” ujarnya.

Adun Munawir bercerita, bahwa awal mula perhatiannya terhadap penyu timbul karena rasa keprihatinan terhadap satwa yang dilindungi semakin diambang kepunahan. Bahkan menurut pengetahuannya, dari tahun ketahun jumlah populasi penyu ini semakin sedikit dan sangat sulit ditemui.

Advertisement

“Hal itu menggerakkan hati saya untuk menangkarkan telur-telur tadi supaya bisa ditetaskan, lalu dilepasliarkan ke laut lepas,” jelas Munawir.

Anak tukik yang siap dilepasliarkan ke Laut (Dok. Pribadi Adun Munawir)

Di Indonesia, semua jenis penyu dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang berarti perdagangan penyu dalam keadaan hidup, mati maupun bagian tubuhnya dilarang. Menurut UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,  pelaku perdagangan (penjual dan pembeli) satwa dilindungi seperti penyu itu bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp100 juta. Pemanfaatan jenis satwa dilindungi hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan.

Menurut Munawir, dirinya rela merogoh kocek pribadi untuk telur-telur penyu yang didapat oleh para nelayan di sekitar pantai Blangmee pada bulan November 2020. “Telurnya saya beli dari nelayan sekitar sini. Pakai uang pribadi. Semula ada sekitar 100 telur yang saya sanggup beli, yang menetas 91, Alhamudlillah semuanya sudah dilepasliarkan ke laut,” kata Munawir.

Setelah mendapatkan telur penyu dari nelayan, Munawir membawa telur-telur tersebut untuk dirawat di rumahnya, di Desa Lamkuta Blangmee. Ia memanfaatkan media seadanya seperti pasir laut dan ember. Pasir dan bentuk sarang telurnya pun dibuat sama persis seperti lubang telur yang biasa terdapat di pantai.

Di rumah inilah, Adun Munawir membuat penangkaran penyu sangat sederhana, dengan pengetahuan secara otodidak. Dia tidak pernah belajar menangkarkan penyu dari siapapun. Semua kebiasaan penyu bertelur itulah yang dilihat dan dipraktikkan.

Bagi Munawir, penangkaran ini menjadi pengalaman pertamanya. Ada banyak hal yang didapat olehnya selama proses pengetasan (penangkaran) ini. “Normalnya penetasan telur itu 45-50 hari, akan tetapi karena pengaruh cuaca dan suhu, tukik menetas setelah 70 hari,” ujarnya.

Awalnya Munawir sempat tidak yakin telur ini akan menetas, karena sudah lebih dari waktu normal. Namun dengan keyakinan akan usahanya yang sungguh-sungguh, akhirnya tukik-tukik akan berkeluaran dari lubang penetasan.”Alhamdulillah hasil kerja keras saya selama ini membuahkan hasil,” lanjut Munawir.

Anak tukik yang siap dilepasliarkan ke Laut (Dok. Pribadi Adun Munawir)

Hari ke-70 satu persatu tukik mulai keluar dari pasir dan hasilnya sungguh mengejutkan, 91 dari 100 telur berhasil di tetaskan. Itu artinya lebih dari 90% telur penyu berhasil ditetaskan, sungguh hasil yang sangat luar biasa.

Satu lagi yang dirasakan oleh Munawir, yakni merasa ada chemistry atau ikatan batin dengan tukik-tukik lucu nan menggemaskan itu. Karenanya ketika puluhan tukik tersebut dilepasliarkan ke laut, ada rasa kehilangan dalam hatinya.

Namun bagi Munawir secepat rasa itu berubah, karena pelepasliaran demi misi pelestarian ini, jauh lebih besar manfaatnya bagi dirinya dan anak cucunya kelak. “saya mohon, apabila ada pihak yang menemukan pendaratan penyu bisa menghubungi saya dan tim yang tergabung dalam kelompok Ujoeng Tiba. Blangmee,” ucap Munawir.

“Insya Allah telur-telur penyu akan dibeli dan dihargai sebagaimana mestinya, dan nantinya akan dilakukan pengamanan dan penangkaran. Karena populasi penyu saat ini sudah semakin langka,” lanjutnya.

Terakhir Munawir berharap, Di Desa Blangmee, pelepasan penyu dapat menjadi kearifan lokal, meskipun menurutnya telur dan cangkang penyu saat ini sangat diburu oleh masyarakat, sehingga masyarakat menjadi lupa terhadap populasi penyu yang semakin sedikit.

“Kami dari masyarakat Desa Blangmee, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar berinisiatif agar tetap menjaga dan melesatrikan penyu yang ada di laut Aceh dengan melakukan tempat penangkaran,” kata Munawir.

Ia melanjutkan, “Pendahulu kami jika ingin mengambil sesuatu dari alam pasti disisakan agar tetap berkembang biak dan tidak punah, kami ingin meneruskan itu. Meski telur penyu diambil, masyarakat juga menyisakan agar populasi penyu tetap terjaga.” tutup Munawir. [yul]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here